{"id":5411,"date":"2026-05-04T01:11:37","date_gmt":"2026-05-04T01:11:37","guid":{"rendered":"https:\/\/kespelsemarang.id\/?p=5411"},"modified":"2026-05-04T01:27:08","modified_gmt":"2026-05-04T01:27:08","slug":"waspada-meningitis-meningokokus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/2026\/05\/04\/waspada-meningitis-meningokokus\/","title":{"rendered":"WASPADA MENINGITIS Meningokokus"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\nMeningitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis (N.meningitidis). terdapat 13 serogrup bakteri N.meningitidis dan 6 diantaranya (A, B, C, W, X dan Y) dapat menyebabkan wabah. Tingkat kematian (Case Fatality Rate\/CFR) : 5-10%. Penyakit ini menjadi terkenal dan global sejak adanya epidemi yang terjadi pada jemaah haji atau orang yang kontak dengan jemaah haji. Laporan WHO (World Health Organization) tahun 2002 menyebutkan terjadi epidemi dari penyakit meningokokus yang berasal dari Saudi Arabia selam penyelenggaraan haji pada maret 2000 sebanyak 304 kasus. Pada periode haji 2001 dilaporkan 274 kasus meningokokus dan beberapa negara juga melaporkan kasus penyakit ini seperti Burkina Faso (4), Republik Afrika Tengah (3), Denmark (2), Norwegia (4), Singapora (4) dan Inggris (41) yang kebanyakan kasus tersebut berhubungan dengan riwayat perjalanan ke Saudi Arabia atau kontak dengan orang yang pernah ke Saudi Arabia.<br \/>\nInsiden kasus meningitis bervariasi, di Eropa dan Amerika Utara sekitar 1 kasus per 100.000 penduduk, sedangkan Afrika mencapai 800-1000 kasus per 100.000 penduduk. Wabah meningitis terbesar dalam Sejarah yang dicatat WHO terjadi tahun 1996-1997 yang menyebabkan lebih dari 250.000 kasus dan 25.000 kematian, yang terparah di wilayah Afrika bagian Sahara. Dibawah ini adalah situasi global penyakit meningokokus pada tahun 2025-2026 minggu ke-16.\n<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/1.png\" alt=\"\" width=\"812\" height=\"408\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5412\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/1.png 812w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/1-300x151.png 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/1-768x386.png 768w\" sizes=\"(max-width: 812px) 100vw, 812px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nTerdapat penambahan di minggu ke-53 tahun 2025- minggu ke-15 tahun 2026 sebanyak 364 kasus konfirmasi di 12 negara dan 13 diantaranya meninggal di Polandia dan Vietnam. Kasus paling akhir saat ini di Vietnam  pada tanggal 13 April 2026, akumulasi kasus yang dimaporkan oleh otoritas negara tersebut dari minggu 1 mencapai 24 kasus konfirmasi dengan 4 kematian (CFR:16,67%). Sebagian besar kasus merupakan anak-anak dengan usia dibawah 15 tahun. Kejadiannya bersifat sporadic dan tidak dilaporkan wabah yang terkonsentrasi. Faktor risiko kasus di Vietnam adalah pemukiman padat dan mass gathering.<br \/>\nSituasi di Indonesia dari tahun 2024-2026 minggu ke-15 terdapat 14 suspek meningitis dari 7 provisnis dengan 1 kasus konfirmasi di DKI, 11 hasil pemeriksaannya negate dan 2 suspek tidak dapat dilakukan pengambilan\/pemeriksaan sampel. <\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/2.png\" alt=\"\" width=\"732\" height=\"383\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5413\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/2.png 732w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/2-300x157.png 300w\" sizes=\"(max-width: 732px) 100vw, 732px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nMasa inkubasi penyakit ini antara 1-10 hari. Gejala dan tanda penyakit ini seperti demam, perubahan status mental\/penurunan kesadaran, dan kaku kuduk. Sakit kepala, mual muntah, ruam, myalgia parah, dan gejala saluran pernafasan.<br \/>\nPenyakit meningitis dapat menular melalui droplet, namun tidak semudah penularan flu biasa. Kontak sekresi tenggorakan (air liur), seperti saat bersin, batuk, berciuman atau tinggal bersama berkepanjangan.<br \/>\nFaktor risiko dari penularan penyakit meningitis ini adalah kontak dengan penderita, pelaku perjalanan dari negara terjangkit, kondisi lingkungan pemukiman padat penduduk dengan ventilasi yang tidak baik dan situasi mass gathering seperti umroh dan haji, jamboree, konser, ziarah dan sebagai.<br \/>\nSaat ini negara-negara di dunia termasuk di Indonesia sedang dalam situasi mass gathering dengan adanya momen pelaksanaan ibadah haji di Saudi Arabia. Hal ini berpotensi terjadinya penularan antar jemaah haji yang berasal dari berbagai negara di dunia. Untuk memitigasi, mencegah terjadinya penularan dan persebaran penyakit meningitis di dunia, khususnya di Indonesia, maka pemerintah Saudi Arabia dan Indonesia memberlakukan kewajiban untuk vaksin meningitis bagi jemaah haji dan umroh serta pelaku perjalanan lain ke negara Saudi Arabia. Selain itu juga edukasi dan pengawasan kekarantinaan kesehatan di pintu masuk negara Indonesia. untuk mencegah penularan dan penyebaran penyakit tersebut, selain kewajiban vaksinasi meningitis meningokokus bagi orang yang akan berpergian ke negara terjangkit, juga masyarakat dihimbau  untuk <\/p>\n<p>&#8211;\tTetap melaksanakan protocol kesehatan, seperti mencuci tangan dengan sabun\/hand sanitizer, terapkan etika batuk dan bersin yang benar serta memakai masker apabila mengalami gejala;<br \/>\n&#8211;\tMenghindari kontak dengan seseorang yang terinfeksi atau menggunakan pelinsund diri (seperti memakai masker) saat melakukan kontak;<br \/>\n&#8211;\tSegera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit meningitis (demam, penurunan kesadaran, kaku kuduk, mual muntah, gangguan pernafasan dan sakit kepal). Terlebih lagi jika pernah bepergian ke negara terjangkit atau pernah kontak dengan orang yang dengan riwayat bepergian ke negara terjangkit.<br \/>\n&#8211;\tPada jemaah haji dan umroh dihimbau untuk memantau kesehatan diri paling tidak selama 21 hari setelah kepulangan dari negara Saudi Arabia dan melaporkan kondisinya ke fasilitas kesehatan terdekat.<br \/>\n Mencegah lebih baik daripada mengobati\u2026. <\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/3.png\" alt=\"\" width=\"242\" height=\"376\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5414\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/3.png 242w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/3-193x300.png 193w\" sizes=\"(max-width: 242px) 100vw, 242px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/4.png\" alt=\"\" width=\"648\" height=\"679\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5415\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/4.png 648w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/4-286x300.png 286w\" sizes=\"(max-width: 648px) 100vw, 648px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meningitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis (N.meningitidis). terdapat 13 serogrup bakteri N.meningitidis dan 6 diantaranya (A, B, C, W, X dan Y) dapat menyebabkan wabah. Tingkat kematian (Case Fatality Rate\/CFR)&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5415,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5411"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5411"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5411\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5419,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5411\/revisions\/5419"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5415"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5411"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5411"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5411"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}