{"id":4949,"date":"2025-10-30T01:33:10","date_gmt":"2025-10-30T01:33:10","guid":{"rendered":"https:\/\/kespelsemarang.id\/?p=4949"},"modified":"2025-10-30T01:37:22","modified_gmt":"2025-10-30T01:37:22","slug":"surveilans-pinjal-dan-binatang-pembawa-penyakit-di-wilker-pelabuhan-juwana-bulan-september-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/2025\/10\/30\/surveilans-pinjal-dan-binatang-pembawa-penyakit-di-wilker-pelabuhan-juwana-bulan-september-2025\/","title":{"rendered":"Surveilans pinjal dan binatang pembawa penyakit Di wilker pelabuhan juwana Bulan september 2025"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Permenkes No 10 Tahun 2023 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Kekarantinaan Kesehatan bahwa Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Semarang<br \/>\nUPT yang melaksanakan upaya mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit dan\/atau faktor risiko kesehatan masyarakat di wilayah kerja pelabuhan, bandar udara, dan pos lintas batas darat negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penjelasan pada Permenkes No 2 Tahun 2023 Tentang Peraturan Pelaksanaan PP No 66 Tentang Kesehatan Lingkungan tentang Vektor adalah arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan, dan\/atau menjadi sumber penular penyakit. Binatang pembawa penyakit adalah binatang selain arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan dan\/atau menjadi sumber penular penyakit terhadap manusia. Pengendalian adalah upaya untuk mengurangi atau melenyapkan faktor risiko penyakit dan\/atau gangguan kesehatan.<br \/>\nSurveilans vektor dan binatang pembawa penyakit adalah suatu proses analisis yang sistematis dan terus menerus dilakukan melalui pengumpulan dan pengolahan data secara teratur, terhadap vektor dan binatang pembawa penyakit untuk menghasilkan informasi sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan dalam upaya pengendalian dan didiseminasikan kepada berbagai pihak yang berkepentingan<\/p>\n<p>Kegiatan ini dilaksanakan bulan September diawali dengan pemetaan pada tanggal 4 September kemudian dilanjutkan dengan pemasangan perangkap pada tanggal 8 \u2013 11 September 2025.<\/p>\n<p>1. Kepadatan Tikus<br \/>\nAnalisis data kepadatan tikus dihitung menggunakan success trap. Success trap adalah persentase tikus yang tertangkap oleh perangkap, dihitung dengan cara jumlah tikus yang didapat dibagi dengan jumlah perangkap dikalikan 100%.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-4957\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-08.jpg\" alt=\"\" width=\"437\" height=\"242\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-08.jpg 437w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-08-300x166.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 437px) 100vw, 437px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Interpretasi hasil bahwa lingkungan mempunyai faktor risiko tinggi terhadap penularan leptospirosis dan penyakit tular tikus lainnya jika nilai success trap tinggi yaitu &gt; 1%. Dan sebaliknya bahwa lingkungan mempunyai faktor risiko rendah terhadap penularan leptospirosis dan penyakit tular tikus lainnya jika nilai success trap rendah yaitu \u2264 1%. Succes trap di Wilker Juwana 3% termasuk dalam lingkungan dengan factor risiko tinggi terhadap penularan leptospirosis dan penyakit tular tikus lainnya<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-4950\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-01-1024x617.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"422\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-01-1024x617.jpg 1024w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-01-300x181.jpg 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-01-768x463.jpg 768w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-01.jpg 1204w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 1. Pemasangan perangkap tikus<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-4951\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-02-1024x565.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"386\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-02-1024x565.jpg 1024w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-02-300x166.jpg 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-02-768x424.jpg 768w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-02.jpg 1205w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 2. Identifikasi tikus<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Spesies tikus yang didapat di Wilker Pelabuhan Juwana adalah <em>Rattus tanezumi<\/em> (5), <em>Rattus norvegicus norvegicus<\/em> (3), <em>Rattus norvegicus javanus<\/em> (3) dan <em>Mus musculus<\/em> (1).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>2. Survey Pinjal<\/p>\n<p>Setelah tikus dianestesi dilakukan penyisiran, kemudian pinjal yang ddapat dimasukan tube yang berisi alkohol 70%, ditutup dilapisi para film kemudian diberi label. Di simpan dalam Frezer<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-4952\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-03-1024x622.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"425\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-03-1024x622.jpg 1024w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-03-300x182.jpg 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-03-768x466.jpg 768w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-03.jpg 1192w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 3 Penyisiran Tikus<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>3. Identifikasi Pinjal<\/p>\n<p>Pinjal yang didapat 12 pinjal di kirim ke Labkesmas Banjarnegara untuk dilakukan identifikasi. Dari 12 pinjal itu semua termasuk kedalam jenis <em>Xenopyilla cheopis<\/em><\/p>\n<p>4. Analisis Data Kepadatan Pinjal<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Analisis data kepadatan pinjal dihitung berdasarkan indeks pinjal khusus (IPK) dan indeks pinjal umum (IPU). pinjal khusus adalah jumlah pinjal <em>Xenopsylla cheopis<\/em> dibagi dengan jumlah tikus yang tertangkap dan diperiksa. Adapun indeks pinjal umum adalah jumlah pinjal umum (semua pinjal) dibagi dengan jumlah tikus yang tertangkap dan diperiksa.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-4958 aligncenter\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-09.jpg\" alt=\"\" width=\"428\" height=\"274\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-09.jpg 428w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-09-300x192.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 428px) 100vw, 428px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Interpretasi hasil bahwa lingkungan mempunyai faktor risiko tinggi terhadap penyakit yang ditularkan oleh pinjal jika nilai indeks pinjal khusus (IPK) tinggi yaitu &gt;1 atau indeks pinjal umum (IPU) tinggi yaitu &gt;2. Dan sebaliknya bahwa lingkungan mempunyai faktor risiko rendah terhadap penyakit yang ditularkan oleh pinjal jika nilai IPK rendah (\u2264 1) atau IPU rendah (\u2264 2). Indek Pinjal khusus di Wilker Pelabuhan Juwana 1 jadi masih termasuk dalam lingkungan dengan faktor risiko rendah.<\/p>\n<p>5. Deteksi <em>Leptospirosis<\/em><\/p>\n<p>Kegiatan yang dilakukan adalah:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengambil ginjal kanan dan kiri, dalam 1 tube, kemudian satu ginjal dipotong menjadi 3 bagian selanjutnya dimasukkan dalam tube berisi alkohol 70%, tutup tube dilapisi parafilm, diberi label dan melakukan sterilisasi alat bedah setiap 1 ekor tikus.12 ginjal dikirim ke Labkesmas Banjarnegara untuk dilakukan pemeriksaan deteksi bakteri <em>Leptospira <\/em>menggunakan metode <em>Polymerase Chain Reaction<\/em> (PCR)<\/p>\n<p>Dari 12 sampel ginjal yang diperiksa, 1 sampel dinyatakan positif bakteri <em>Leptospir<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-4953 aligncenter\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-04-1024x652.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"446\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-04-1024x652.jpg 1024w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-04-300x191.jpg 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-04-768x489.jpg 768w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-04.jpg 1184w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/em>Gambar 4. Pengambilan ginjal tikus<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>6. Deteksi <em>Richettsia typhi<\/em><\/p>\n<p>12 pinjal yang dikirim ke Labkesmas Banjarnegara dilakukan pemeriksaan deteksi <em>Richettsia typhi <\/em>menggunakan metode <em>Polymerase Chain Reaction<\/em> (PCR) dengan hasil 12 pinjal positif.<\/p>\n<p>7. Tindak Lanjut<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Instansi BKK Kelas I Semarang Wilker Pelabuhan Juwana<\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li>Edukasi dan Promkes kepada masyarakat dan lintas sektor melalui sticker\/poster kewaspadaan <em>Leptospirosis<\/em>.<\/li>\n<li>Melakukan Suveilans kepada AB Kapal salah satunya pemeriksaan Kesehatan AB Kapal bekerja sama dengan Satpolairud Polres Pati.<\/li>\n<\/ul>\n<ol>\n<li>Lintas sektor dan masyarakat<\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li>Perlunya pengendalian tikus secara mandiri dan berkelanjutan.<\/li>\n<li>Perbaiki sanitasi lingkungan.<\/li>\n<li>Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat.<\/li>\n<li>Segera lakukan pemeriksaan jika terdapat gejala penyakit<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-4959\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-10-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"525\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-10-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-10-300x225.jpg 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-10-768x576.jpg 768w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-10-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-10-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 5 Pembagian poster ke Lintas Sektor<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-4954\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-05-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"525\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-05-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-05-300x225.jpg 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-05-768x576.jpg 768w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-05-1536x1152.jpg 1536w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-05-2048x1536.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 6 Promkes melalui poster ke Ketua RT<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone wp-image-4955\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-06-768x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"933\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-06-768x1024.jpg 768w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-06-225x300.jpg 225w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-06-1152x1536.jpg 1152w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-06.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 7 Promkes kewaspadaan <em>Leptospirosis<\/em> melalui poster<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-4956\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-07-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"394\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-07-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-07-300x169.jpg 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-07-768x432.jpg 768w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-07-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Surveilans-pinajl-07.jpg 1599w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Gambar 8. Promkes Bahaya Leptospirosis bekerja sama dengan Puskesmas Juwana di Desa Bajomulyo Kecamatan Juwana<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bahan bacaan : <em>Pedoman Surveilans dan Pengendalian Tikus, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2021<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Permenkes No 10 Tahun 2023 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Kekarantinaan Kesehatan bahwa Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Semarang UPT yang melaksanakan upaya mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4952,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[9,10],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4949"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4949"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4949\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4992,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4949\/revisions\/4992"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4949"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4949"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4949"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}