{"id":4702,"date":"2025-04-19T06:18:28","date_gmt":"2025-04-19T06:18:28","guid":{"rendered":"https:\/\/kespelsemarang.id\/?p=4702"},"modified":"2025-04-19T06:19:49","modified_gmt":"2025-04-19T06:19:49","slug":"burnout","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/2025\/04\/19\/burnout\/","title":{"rendered":"BURNOUT"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"> Beberapa waktu kemarin kita sering membaca atau mendengar istilah \u201cburnout\u201d. Istilah tersebut ramai dibahas terutama oleh kaum pekerja. Pembahasan dan diskusi untuk menanggapi fenomena burnout berkaitan dengan kelelahan karena jam kerja atau aktifitas kerja.<br \/>\nBila menilik Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3). Pengertian keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dalam banyak kejadian di instansi, perkantoran maupun perusahaan mungkin sudah menerapkan SMK3 tersebut untuk perlindungan dan pencegahan kecelakaan kerja. Namun yang sering terlupakan adalah penerapan pencegahan kelelahan kerja atau burnout. <\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nSebelum kita masuk lebih dalam mengenai burnout, ada baiknya melihat fenomena budaya baru di lingkup pekerja, tren ini tidak hanya terjadi di negeri kita. Di banyak kota besar, bahkan sudah menjadi fenomena global muncul istilah \u201chustle culture\u201d. Sebuah gaya hidup baru di kalangan milenial yang menganggap dirinya akan sukses jika terus melakukan pekerjaan dan memiliki sedikit waktu untuk beristirahat. Faktanya berdasarkan penelitian dari The Deloitte Global terhadap 46 negara pada 14.800 an gen Z dan 8.400 an milenial dibulan November 2021 dan Januari 2022, ternyata 46% gen Z dan 41% milenial merasa stress sepanjang waktu.\n<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nMemang stress di tempat kerja terkadang diperlukan untuk menumbuhkan semangat bekerja, sehingga menjadi lebih baik dalam pekerjaan dan lebih berkembang. Namun bila stress tidak diatasi dengan tepat bukan hanya jadi penghalang performa kerja, tapi juga berdampak buruk pada kesehatan dan kehidupan pribadi.<br \/>\nDari pembahasan di atas bisa diambil benang merahnya. Stres pada kondisi normal bisa dijadikan penumpu dalam menumbuhkan semangat kerja, namun bila melebihi kondisi normal akan bermasalah. Jika dibiarkan tanpa diatasi dan akan bertambah, sampai terlalu banyak beban stres yang tidak terhitung pada seorang pekerja. Dalam tahap tersebut kondisi stres sudah berubah menjadi burnout.\n<\/p>\n<p>Berikut perbedaan gejala stres kerja dan burnout<br \/>\n<img loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-19-131928.png\" alt=\"\" width=\"820\" height=\"247\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4707\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-19-131928.png 820w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-19-131928-300x90.png 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-19-131928-768x231.png 768w\" sizes=\"(max-width: 820px) 100vw, 820px\" \/><\/p>\n<p>Ciri-ciri burnout secara fisik :<br \/>\n1.\tMerasa lelah sepanjang waktu<br \/>\n2.\tSering merasa sakit kepala dan pegal-pegal<br \/>\n3.\tGangguan tidur<br \/>\n4.\tAktifitas sehar-hari menguras energi lebih banyak dibandingkan sebelumnya<br \/>\n5.\tNafsu makan menurun<br \/>\n6.\tDaya tahan tubuh menurun, akibatnya mudah terserang penyakit<\/p>\n<p>Secara emosional, kondisi burnout dapat dideteksi dari hal berikut :<br \/>\n1.\tTidak termotivasi<br \/>\n2.\tMeragukan diri<br \/>\n3.\tMudah marah<br \/>\n4.\tSering menangis<br \/>\n5.\tKecewa dengan diri sendiri<br \/>\n6.\tMerasa kesepian<br \/>\n7.\tKurangnya rasa empati<br \/>\n8.\tMerasa hampa<br \/>\n9.\tMerasa selalu ada yang salah<br \/>\n10.\tBerpikiran negatif terhadap segala hal<\/p>\n<p>Ciri-ciri burnout secara perilaku :<br \/>\n1.\tLari dari tanggung jawab<br \/>\n2.\tMengisolasi diri<br \/>\n3.\tMenunda-nunda pekerjaan<br \/>\n4.\tMenyalahkan orang lain<br \/>\n5.\tPenurunan performa<br \/>\n6.\tSering membuat konflik dengan orang lain<br \/>\n7.\tMenggunakan obat-obatan (konsumsi minuman ber alkohol)<br \/>\n8.\tSering telat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\nDi Jepang kelelahan kerja diistilahkan dengan \u201ckaroshi\u201d yang identik dengan istilah \u201cgwarosa\u201d  di Korea. Istilah tersebut merujuk pada kelelahan kerja yang brujung pada risiko kematian. WHO dan ILO menyatakan jumlah kematian akibat kelalahan kerja mencapai 745.000 jiwa (74,5%) dari 1,9 juta kematian di 183 negara. Korban karoshi  di Jepang pada tahun 2019 sebesar 1940 jiwa. (1) Di negara kita sudah pernah terjadi seorang kurir pengantaran online diduga meninggal karena kelelahan. (2)<br \/>\nBerikut bagan penjelasan sindroma burnout\n<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-19-131655.png\" alt=\"\" width=\"956\" height=\"549\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4705\" srcset=\"https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-19-131655.png 956w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-19-131655-300x172.png 300w, https:\/\/kespelsemarang.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Screenshot-2025-04-19-131655-768x441.png 768w\" sizes=\"(max-width: 956px) 100vw, 956px\" \/><\/p>\n<p>Lalu, bagaimana cara mengatasi burnout? Setidaknya ada 5 hal yang bisa dilakukan :<br \/>\n1.\tBuat skala prioritas (pekerjaan)<br \/>\n2.\tKurangi ekspektasi dan tingkatkan apresiasi diri<br \/>\n3.\tKonsultasikan dengan atasan dan bagian kepegawaian (mekanisme coaching)<br \/>\n4.\tBerbagi (sharing) dengan keluarga atau teman dekat<br \/>\n5.\tTingkatkan spiritualitas, lakukan meditasi atau yoga<\/p>\n<p>Pencegahan tentu saja lebih baik. Sebelum terjadi level burnout bila dirasa sudah lelah dalam pekerjaan atau mulai hilang fokus, bisa dilakukan tips berikut :<br \/>\n\uf0fc\tMelakukan teknik 20-20-20<br \/>\nLakukanlah istirahat selama 20 menit dilanjutkan dengan melihat benda pada jarak 20 kaki (6 m) selama 20 detik.<br \/>\n\uf0fc\tMelakukan peregangan<br \/>\nDilakukan agar otot lebih rileks untuk mengurangi risiko sakit leher dan punggung<br \/>\n\uf0fc\tMelakukan teknik pernafasan<br \/>\nDengan cara menarik nafas dalam-dalam melalui hidung dan membuang nafas melalui mulut<\/p>\n<p>\uf0fc\tMinum air putih<br \/>\nMinumlah air yang cukup supaya dapat memperlancar sirkulasi dan oksigen dalam tubuh<br \/>\n\uf0fc\tMencari udara segar<br \/>\nTinggalkan ruang kerja kita sejenak dengan mencari udara yang lebih segar supaya pikiran kita lebih tenang<\/p>\n<p>Semoga bermanfaat&#8230;<\/p>\n<p>*artikel ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan dalam Forum P2K3 Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang pada tanggal 26 Maret 2024<br \/>\nSumber :<br \/>\n(1). https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/13944320\/karoshi-kematian-warga-jepang-karena-terlalu-banyak-bekerja?page=all<br \/>\n(2). https:\/\/health.detik.com\/berita-detikhealth\/d-6571714\/viral-diduga-picu-kurir-meninggal-mengapa-kelelahan-bisa-berujung-kematian<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa waktu kemarin kita sering membaca atau mendengar istilah \u201cburnout\u201d. Istilah tersebut ramai dibahas terutama oleh kaum pekerja. Pembahasan dan diskusi untuk menanggapi fenomena burnout berkaitan dengan kelelahan karena jam kerja atau aktifitas kerja.&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4705,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0},"categories":[3,9],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4702"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4702"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4702\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4711,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4702\/revisions\/4711"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4705"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4702"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4702"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kespelsemarang.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4702"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}