Kesiapsiagaan KKP terhadap masuknya MERS-CoV pada kedatangan Jamaah Haji Indonesia Tahun 2014

Dalam waktu dekat ini, yaitu mulai tanggal 9 Oktober 2014, Jamaah haji Indonesia mulai kembali dari Arab Saudi ke tanah air. Ada suatu pekerjaan penting yang harus dilaksanakan pemerintah Indonesia, khususnya Kemenkes RI dalam rangka menangkal berbagai kemungkinan penyakit yang dibawa Jamaah haji Indonesia dari Arab Saudi. Salah satu penyakit utama yang saat ini masih menjadi perhatian dunia adalah MERS CoV. MERS CoV dianggap menjadi prioritas kewaspadaan dikarenakan penyakit ini sumber awalnya berasal dari Arab Saudi serta penularan dan angka kematiannya sampai saat ini di Arab Saudi masih terus berjalan. Data terakhir (tanggal 2 Oktober 2014) dari WHO menunjukkan bahwa sampai saat ini terdapat 853 kasus dengan 301 kematian (CFR: 35,3%). Sebagian besar kasus terjadi di Arab Saudi, dan beberapa kasus terjadi di Jordania, Kuwait, Oman, Qatar, Uni Emirat Arab, Mesir, Francis, Jerman, Italia, Inggris, Amerika Serikat, Tunisia, Philipina, Malaysia, Libanon, Belanda, Iran, dan data terakhir Austria. Kasus-kasus di negara-negara lain tersebut masih berhubungan dengan riwayat perjalanan dari Arab Saudi atau negara timur tengah. Kasus di Arab Saudi selama bulan September 2014 terdapat 11 kasus baru dengan 2 kematian. Gejala khas MERS CoV adalah demam (38C), batuk, dan pneumonia.

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) merupakan Unit Pelaksana Pusat (UPT) Kemenkes RI di bawah Ditjen PP dan PL yang fungsi utamanya adalah cegah tangkal penyakit yang berpotensi menimbulkan PHEIC. Salah satunya adalah melaksanakan fungsi surveilans epidemiologi dan pelayanan bidang kesehatan di embarkasi/debarkasi haji. Sehingga KKP memiliki peran strategis dalam melakukan upaya-upaya menangkal potensi masuknya MERS CoV ke Indonesia melalui jamaah haji Indonesia di point of Entry (pintu masuk negara). Langkah-langkah yang dilaksanakan oleh KKP untuk melaksanakan kewaspadaan terhadap MERS CoV pada kedatangan jamaah haji Indonesia di Debarkasi haji adalah sebagai berikut:

A. DETEKSI DINI

1. Pengawasan terhadap orang :

a. Pemberian Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH) terhadap jamaah haji yang kembali.

b. Menerima pelaporan dari tenaga kesehatan kloter/ awak/ operator/ agen alat angkut yang baru saja meninggalkan daerah terjangkit mengenai ada tidaknya penumpang yang sakit, terutama yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (form JH Kloter terlampir).

c. Petugas aktif menanyakan pada operator/ agen alat angkut mengenai ada tidaknya penumpang yang sakit, terutama yang menderita infeksi saluran pernapasan akut.

d. Petugas aktif menanyakan pada semua unit otoritas di bandara/ pelabuhan/PLBD dan operator/ agen alat angkut mengenai ada tidaknya petugas yang menderita infeksi saluran pernafasan akut.

e. Mendeteksi penumpang dari negara terjangkit yang mengalami demam melalui penggunaan thermal scanner di terminal kedatangan:


2.
Pengawasan terhadap barang :

- Pemeriksaan terhadap barang-barang yang dibawa dari negara terjangkit.


3. Pengawasan terhadap alat angkut :

a. Pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen kesehatan alat angkut.

b. Pemeriksaan langsung kesehatan alat angkut oleh tim petugas KKP.


B. KEWASPADAAN

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan tinjauan atas kesiapan perangkat surveilans yang ada dalam menghadapi kemungkinan masuknya infeksi MERS-CoV ke wilayah Indonesia, dengan langkah sebagai berikut:

1. Menyiapkan pedoman/SOP alur sistem kewaspadaan dini dan tata laksana kasus

2. Menyiapkan Tim Gerak Cepat dan SDM yang terlatih

3. Menyiapkan sarana dan prasarana, seperti menyiapkan ruang observasi dan isolasi sementara, alat transportasi rujukan, APD, alkes, obat-obatan, alat komunikasi, dan media KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)

4. Melaksanakan jejaring lintas sektor, baik instansi-instansi otoritas di wilayah bandara/debarkasi, RS rujukan, dan instansi terkait lainnya.


C. RESPON

1. Jika ada laporan dari crew yang menyatakan bahwa ada jamaah haji yang sakit dengan gejala Panas, Batuk dan sesak nafas di atas pesawat sebelum landing maka Petugas KKP melakukan persiapan dil apangan utk mengevakuasi penumpang yang sakit. Persiapan yang dilakukan adalah petugas yang akan boarding ke Pesawat menggunakan APD standar (masker dan sarung tangan), menyiapkan ambulans evakuasi penyakit menular, masker untuk dibawa ke atas pesawat dan menyiapkan ruang isolasi sementara untuk melakukan tindakan pertolongan pertama sebelum dilakukan rujukan.

2. Pesawat setelah mendarat parkir di remote area.

3. Petugas KKP yang sudah menggunakan APD standar dengan menggunakan ambulans mendekati pesawat yg membawa penumpang sakit.

4. Setelah pintu pesawat dibuka petugas KKP meminta Gendec kepada Crew dan petugas wajib menyampaikan SOP evakuasi penumpang sakit kepada Crew pesawat.

5. Pramugari memberikan pengumuman kepada seluruh jamaah haji bahwa akan dilakukan penanganan kesehatan oleh Petugas Kesehatan Bandara.

6. Petugas KKP bersama pramugari menuju penumpang yang sakit dan memakaikan masker N95 kepada penumpang yang sakit

7. Orang yang kontak dengan penumpang sakit yaitu penumpang yang duduk 2 baris di depan, 2 baris belakang dan 2 baris kiri dan kanan dipasangkan masker N95 dan berikan penjelasan kepada penumpang tersebut. Penumpang yang duduk 2 baris di depan, belakang, samping kiri dan kanan diturunkan dari pesawat setelah penumpang yang lain turun.

8. Penumpang yang sakit pneumonia berat di evakuasi ke Ruang Isolasi sementara untuk dilakukan penanganan medis sebelum dirujuk ke Rumah Sakit.

9. Seluruh penumpang turun dari pesawat harus melewati alat deteksi panas (thermal scanner).

10. Jamaah haji dengan demam,batuk tanpa pneumonia di perbolehkan pulang dengan diberikan masker dan edukasi untuk kontrol ke puskesmas atau rumah sakit di wilayahnya apabila gejala berlanjut.

11. Jamaah haji dengan pneumonia tanpa memerlukan perawatan rumah sakit diperbolehkan pulang dengan diberikan masker, pengobatan yang diperlukan, serta edukasi untuk isolasi diri (membatasi lingkungan di rumah) dan berobat ke rumah sakit di wilayahnya bila gejala sakit bertambah berat.

12. Bila ditemukan kasus dalam penyelidikan (demam, batuk, dan pneumonia berat yang memerlukan perawatan),lakukan tatalaksana kasus,ambil specimen dan rujuk ke RS Debarkasi sesuai SOP dengan memperhatikan prinsipprinsip pencegahan dan pengendalian infeksi seperti kewaspadaan baku (universal precaution) serta kewaspadaan terhadap risiko potensi pajanan yang akan terjadi.

13. Petugas KKP juga memberikan penyuluhan kepada crew tentang kewaspadaan terhadap MERS-CoV setelah seluruh penumpang turun

14. Petugas KKP melakukan tindakan disinfeksi pada tempat duduk penumpang sakit dan 2 baris di depan/ belakang dan 2 baris di kiri kanan dengan bahan disinfektan alkohol yang tidak merusakinterior pesawat.

15. KKP mencatat data jamaah haji dengan pneumonia dan melaporkan data tersebut ke Posko KLB Kemenkes RI dan ditembuskan ke Dinas Kesehatan Provinsi.

16. Mencatat data petugas semua unit otoritas bandara/pelabuhan/ PLBD yang sakit dan mengirimkan data tersebut setiap minggu ke Posko KLB, termasuk bila tidak ada petugas yang sakit/ zero reporting.

17. Melaporkan kasus dalam penyelidikan ke Posko KLB dengan tembusan Dinas Kesehatan Provinsi dalam waktu 24 jam.

(Ariyanto, SKM)




Tim Kesehatan menyambut kepulangan Jamaah haji Embarkasi Solo pada musim haji tahun lalu (2013)




Ayo, cegah penularan MERS CoV di Indonesia..!


Referensi:

1. Buku Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Kemenkes RI 2013.

2. www.who.int/csr

3. www.depkes.go.id




















Kategori Berita

Arsip File