Mengembangkan konsep pelayanan kesehatan Holistik

Di era modernisasi saat ini, sistem pelayanan kesehatan berkembang dengan pesat, seperti semakin bertambah canggihnya alat-alat kesehatan, obat-obatan dengan merk yang sangat bervariasi, pembangunan Rumah Sakit-Rumah Sakit besar, praktek pengobatan dokter dengan berbagai spesialis dan sub spesialis, berkembang pesatnya cakupan jaminan pembiayaan kesehatan (asuransi kesehatan) baik yang dikelola BUMN maupun swasta, dan sebagainya. Modernisasi pelayanan kesehatan tersebut membawa dampak dua mata pisau. Di satu sisi membawa dampak yang positif bagi kemajuan di sektor kuratif/pengobatan dan rehabilitatif, tetapi di satu sisi dapat berpotensi menurunkan sektor preventif-promotif seperti menurunnya program pencegahan dan pengendalian penyakit, menurunnya kemandirian/pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat, semakin banyaknya anggaran yang dikeluarkan negara dan masyarakat untuk penanggulangan masalah kesehatan maupun dampak yang lain yaitu timbulnya kapitalisme bidang kesehatan, dimana kesehatan yang lebih berorientasi pada bisnis. Dampak negatif tersebut jika dibiarkan tumbuh dan berkembang maka akan menimbulkan efek rumah tingkat berongga bagi pembangunan kesehatan. Maksudnya jika dilhat dari luar nampak megah, tetapi ternyata terdapat rongga menganga didalam bangunan yang dapat mengakibatkan robohnya bangunan tersebut.

Untuk menjawab permasalahan di atas, ada satu sistem pelayanan kesehatan untuk mengimbangi modernisasi kesehatan saat ini. Sistem tersebut adalah sistem pelayanan kesehatan Holistik. Sistem pelayanan kesehatan holistik artinya adalah bahwa pelayanan kesehatan secara menyeluruh, tidak terkotak-kotak, manusia dipandang bukan hanya sebagai obyek  tetapi merupakan supyek/pelaku kesehatan dengan segala sudut pandang keunikannya baik dari segi biologi, psikologi, sosial, budaya, ekonomi, spiritual, dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan arti sehat yang didefinisikan oleh WHO bahwa sehat diartikan sebagai sejahtera jasmani, sejahtera rohani dan sejahtera sosial bukan hanya bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan. Dengan demikian sehat tidak bisa hanya dipahami secara parsial bahwa tubuh yang sehat hanya dilihat dari fisik yang bugar dan dari pemeriksaan medis seseorang terbebas dari penyakit fisik baik yang bersifat menular maupun tidak menular. Cakupan pengertian sehat lebih luas dari hal tersebut, sebab sehat juga menyangkut pada aspek rohani dan aspek sosial. Maka dalam pelayanan kesehatan holistik tidak hanya berfokus pada kuratif dan rehabilitatif saja, tetapi juga sangat memperhatikan unsur preventif dan promotif kesehatan.

Pelayanan kesehatan holistik didasarkan pada konsep bahwa manusia sakit bukan hanya merupakan masalah fisik semata yang dapat diselesaikan dengan obat saja, tetapi memperhatikan kesatuan seluruh aspek kehidupan manusia. Jadi Holistik mempunyai sifat holisme (utuh/saling terkait) dan humanisme (kemanusiaan/memanusiakan manusia). Dalam pelayanan kesehatan holistik, pasien diberikan informasi yang seluas-luasnnya tentang masalah kesehatan yang dialaminya, diberikan informasi tentang berbagai alternatif solusi untuk mengatasi masalah kesehatannya, keleluasaan untuk memilih jenis layanan kesehatan yang cocok bagi dirinya, dan menekankan pada upaya pemberdayaan pasien tersebut untuk menjaga kesehatannya agar tidak menderita penyakit yang sama.

Banyak bentuk layanan yang dapat diberikan pada sistem pelayanan kesehatan holistik dengan memadukan berbagai disiplin ilmu. Pelayanan tersebut antara lain meliputi deteksi dini penyakit beserta faktor risikonya dan solusi penanggulangannya, klinik gizi masyarakat, posyandu KIA/pelayanan kesehatan ibu dan anak, posyandu lansia, pelayanan konsultasi kesehatan, klinik VCT dan kesehatan reproduksi, konsultasi/pelayanan kesehatan jiwa, pengembangan tanaman obat tradisional yang sudah teruji secara klinis, terapi dengan pendekatan fisiologis, klinik kesehatan lingkungan, advokasi masyarakat kurang mampu agar dapat mengakses layanan kesehatan, surveilans lapangan dan penanggulangan masalah kesehatan, penyuluhan/promosi kesehatan, pengembangan penelitian/riset kesehatan masyarakat, dan berbagai alternatif pelayanan kesehatan lain yang secara inovatif dapat terus dikembangkan.

Pelayanan kesehatan holistik masyarakat ini merupakan konsep pelayanan kesehatan dengan pendekatan paradigma public health dimana fokus pelayanannya tidak hanya kepada masyarakat yang sakit tetapi juga pada masyarakat yang sehat agar tidak menjadi sakit. Konsep tersebut tentunya juga berjalan beriringan dengan kuratif dan rehabilitatif. Tetapi agar konsep layanan kesehatan holistik ini berjalan dengan optimal dan semestinya, maka menurut penulis hendaknya berdiri sendiri/terpisah dari sektor kuratif/rehabilitatif. Dan agar masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah, maka hendaknya dapat didirikan oleh Pemerintah Daerah yang ditempatkan di setiap Kabupaten/Kota atau idealnya di setiap Kecamatan. Jadi layanan kesehatan holistik merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah di bawah Dinkes Kabupaten/Kota atau dapat juga di bawah Dinkes Provinsi, yang terdiri dari tenaga teknis profesional di bidangnya masing-masing, jauh dari kepentingan birokratis/politis, dan fokus bekerja untuk kepentingan masyarakat. Layanan tersebut tentunya tidak mengganggu fungsi Puskesmas yang telah ada sebelumnya tetapi justru mendorong puskesmas agar lebih fokus pada bidang pelayanan yang sudah ada. Untuk mewujudkan konsep layanan holistik tersebut tentunya tidak mudah, tetapi perlu kerja keras dan dukungan semua pihak agar paradigma indonesia sehat yang dulu pernah digelorakan  tercapai pada tahun 2010, dapat benar-benar diimplementasikan secara nyata, bermanfaat bagi seluruh masyarakat, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.  (Ariyanto, SKM)

 

 

Dengan layanan kesehatan holistik diharapkan dapat mencapai hidup sehat yang sesungguhnya untuk semua masyarakat Indonesia

 

Referensi:

1. www.sehatnegeriku.com

2. www.bangka.tribunnews.com

3. www.id.wikipedia.org

4. www.holisticindonesia.com

 














Kategori Berita

Arsip File