Pengaruh pendidikan kesehatan tentang penyakit flu burung terhadap tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Desa Gondangmanis Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar

Ajeng Nursetya Ningtyas*, Badar Kirwono**, Yuli Kusumawati***
(*Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat FIK UMS, **Dosen Kesehatan Masyarakat FIK UMS, ***Dosen Kesehatan Masyarakat FIK UMS)

Flu burung merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh virus Avian Infuenza. Sampai saat ini virus Avian influenza terus mengalami perkembangan strain yang tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan pandemi sewaktu-waktu. Kecamatan Karangpandan merupakan daerah tertular penyakit flu burung yang setiap tahun terdapat kematian unggas. Hal ini perlu adanya kesiapsiagaan masyarakat untuk mencegah penularan ke manusia sewaktu-waktu Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang penyakit flu burung terhadap tingkat kesiapsiagaan masyarakat di desa gondangmanis, kecamatan karangpandan, kabupaten karanganyar. Metode penelitian ini quasi eksperimen dengan pre-test dan post-test. Subyek penelitian ini adalah kepala keluarga dengan jumlah sampel sebesar 68 responden yang dibagi menjadi 34 kelompok eksperimen dan 34 kelompok kontrol. Uji statistik menggunakan uji Paired t-test dan uji Wilcoxon signed rank test dengan tingkat signifikasi = 0,05. Hasil penelitian adalah ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat kesiapsiagaan (p=0,000) pada kelompok eksperimen, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan nilai pre-test dan post-test tingkat kesiapsiagaan (p=1,000). Disarankan kepada dinas terkait untuk memperbanyak sosialisasi tentang penyakit flu burung untuk menambah tingkat kesiapsiagaan masyarakat.


PENDAHULUAN

Avian Influenza (AI) atau flu burung atau sampar unggas merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh virus Avian Influenza tipe A sub tipe H5N1 dari family Orthomyxoviridae yang umumnya menyerang unggas dan dapat juga menular pada hewan lain seperti kucing, anjing, dan anjing (Komnas FBPI, 2009). Seiring adanya perkembangan waktu dan virus, penyakit ini juga ikut menyerang babi dan menyerang manusia.

Infeksi flu burung telah menular dari unggas ke manusia berawal pada tahun 1997 di Hongkong saat itu telah terjadi 3 kali outbreak yang menginfeksi 18 orang diantaranya 6 orang pasien meninggal dunia infeksi virus influenza A subtipe H5N1. Di wilayah ASEAN flu burung masuk pada tahun 2003 melalui Vietnam, 3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal. Sampai dengan akhir tahun 2012, sebanyak 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi flu burung yaitu Vietnam, Thailand, Indonesia, Laos, Myanmar dan Kamboja (Kemenkes, 2013). Di Indonesia kasus flu burung diawali ditemukannya kasus pada unggas di Pekalongan, Jawa Tengah, pada bulan Agustus 2003 (Widoyono, 2011). Sampai tahun 2012 jumlah kasus terdapat 15 provinsi yang tertular Flu Burung (Kemenkes, 2013). Berdasarkan data WHO (2014), di Indonesia kasus yang dikonfirmasi dari awal terjadinya flu burung sampai tahun 2014 ini mencapai 195 orang dengan 163 orang meninggal dunia (CFR=83,6%).

Berdasarkan perkembangan virus dan penularan yang sangat cepat, serta dapat mengancam kesehatan masyarakat, maka ditetapkanlah Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1371/MENKES/SK/IX/2005 oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menyatakan bahwa penyakit flu burung sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Hal ini dilakukan Kemenkes sebagai langkah pencegahan dan penanggulangan flu burung serta mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) serta sebagai bentuk kewaspadaan dini terjadinya pandemi.

Kecamatan Karangpandan, merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar yang setiap tahunnya terjadi kematian unggas yang cukup banyak dan merupakan daerah tertular (Depkes RI, 2006) dengan kejadian flu burung di unggas yang dikonfirmasi positif AI mencapai 8.525 ekor dengan kematian 1.450 ekor pada tahun 2010-2013 (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Karanganyar, 2014). Menurut data PDP Kecamatan Karangpandan (2013), jumlah populasi unggas mencapai 3.849 ekor yang terdiri dari 2.009 ekor ayam rakyat dan 1.840 ekor itik. Selain itu, di Desa Gondangmanis terdapat 12 peternakan besar yang berisikan 51-500 ekor ayam petelur. Banyaknya kejadian flu burung pada unggas serta populasi ternak yang padat tersebut dapat menyebabkan faktor resiko tertularnya flu burung pada masyarakat yang bertempat tinggal di desa tersebut. Oleh karena itu, sangat diperlukannya kesiapsiagaan masyarakat dalam rangka pencegahan penularan penyakit flu burung dari unggas ke manusia.

Kesiapsiagaan merupakan tahap mempersiapkan kegiatan yang dilaksanakan dengan baik yang meliputi sumber daya, metode dan pengorganisasian. Kegiatan keseiapsiagaan meliputi kegiatan terintregasi yang dilaksanakan secara nasional, lintas program dan lintas sektor serta terpadu secara vertikal maupun horizontal (Depkes, 2008). Kesiapsiagaan tidak luput dari tindakan tanggap masyarakat terhadap kejadian flu burung melalui tindakan waspada flu burung, perilaku bersih dan sehat, deteksi dini gejala flu burung, serta kecepatan pelaporan kasus.

Dalam rangka memenuhi adanya kesiapsiagaan masyarakat terhadap penyakit flu burung, maka diperlukan pengetahuan dasar tentang penyakit flu burung. Karena semakin baik pengetahuan maka masyarakat akan mempunyai sikap positif (Miftahudin, 2008). Dari sikap yang positif itulah akan menimbulkan kesiapsiagaan dari masyarakat dalam menghadapi kejadian flu burung sewaktu-waktu. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu metode untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat atau memberikan informasi terkait kesehatan yang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara.

METODE

Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperiment Design, dengan rancangan Non Equivalent Control Group dimana melakukan pre-test dan post-test terhadap sampel yang terdiri dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Lokasi penelitian di Desa Gondangmanis, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar yang dilaksanakan pada bulan April Juli 2014.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Kepala Keluarga (KK) yang ada di Desa Gondangmanis sejumlah 850 KK. Adapun sampel yang digunakan ditentukan dengan menggunakan rumus Sample Size for Frequency in a Population yang dihitung dengan bantuan software Open Epi dengan menggunakan derajat kepercayaan 95% dan proporsi kepemilikan unggas 95% dibandingkan dengan jumlah keseluruhan KK didapat hasil 68 KK. Maka sampel yang digunakan pada masing-masing kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah 34 KK

Teknik pengambilan sampel menggunakan metode Simple Random Sampling (SRS) yaitu dilakukan dengan melakukan undian pada kerangka sampel. Dengan kriteria :

1. Kriteria Inklusi

a. Masyarakat yang bersedia menjadi responden

b. Sejumlah 7% dari responden merupakan salah satu pemangku kepentingan di desa yang meliputi Ketua RT, Ketua RW, Bayan, ataupun Perangkat Desa.

c. Masyarakat yang memelihara unggas baik skala kecil maupun skala besar

d. Mempunyai kemampuan membaca

e. Masyarakat berusia kurang dari 70 tahun

f. Masyarakat yang tinggal di lingkungan Desa Gondangmanis


2. Kriteria Ekslusi adalah Masyarakat yang tidak bisa hadir pada saat pelaksanaan perlakuan
Adapun analisis data yang digunakan analisis univariat yang dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan presentase setiap variabel yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel atau grafik dan di interpretasikan dan analisis bivariat digunakan untuk melihat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat kesiapsiagaan. Analisis yang digunakan pada data yang normal adalah menggunakan uji Paired t-test sedangkan yang tidak normal menggunakan uji Wilcoxon signed rank test dengan derajat kepercayaan 95%.


HASIL

A. Karakteristik Responden

1.Jenis Kelamin Responden
Tabel 1 menggambarkan pada kelompok eksperimen responden perempuan lebih banyak (58,8%) dibandingkan dengan responden laki-laki (41,2%) sedangkan untuk kelompok kontrol responden terbanyak adalah laki-laki (85,3%) dibandingkan responden perempuan (14,7%).

2.Umur Responden
Berdasarkan Tabel 1, distribusi umur responden kelompok eksperimen menunjukkan dari 34 responden yang diteliti, terbanyak adalah kelompok umur 3140 tahun (41,2%) sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan kelompok umur terbanyak adalah 4150 tahun (35,3%).

3.Tingkat Pendidikan Responden
Tabel 1 menunjukkan distribusi tingkat pendidikan responden pada kelompok eksperimen tertinggi adalah lulus SMA (44,1%) sedangkan kelompok kontrol menunjukkan responden terbanyak adalah lulusan SD (44,1%).

4.Paparan Informasi
Dari tabel 1, dapat dilihat bahwa pada responden pada kelompok eksperimen sudah mendapatkan informasi tentang flu burung adalah sebanyak 27 orang (79,4%) sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 22 orang (64,7%) juga sudah mendapatkan informasi mengenai flu burung. Televisi merupakan sumber informasi yang paling banyak memberikan informasi tentang flu burung pada kelompok eksperimen (58,8%) dan kelompok kontrol (35,3%) (Tabel 2).


Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden


Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Sumber Informasi yang Didapatkan


B. Analisis Univariat

1. Pengetahuan tentang Flu Burung
Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa tingkat pengetahuan tentang flu burung antara pre-test dan post-test kelompok eksperimen terjadi kenaikan, yaitu dari 15 orang (52,9%) yang berpengetahuan baik setelah diberikan pendidikan kesehatan naik menjadi 20 orang (58,8%) dan tidak ada responden yang berpengetahuan kurang setelah pemberian pendidikan kesehatan sedangkan pada kelompok kontrol juga mengalami kenaikan pengetahuan dari 14 orang (41,2%) yang berpengetahuan baik pada nilai pre-test menjadi 19 orang berpengetahuan baik (55,9%) dan tidak ada responden yang berpengetahuan kurang setelah pemberian pos-test.

2. Deteksi Dini
Tabel 3 menggambarkan hasil pre-test dan post-test variabel deteksi dini pada kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan kemampuan deteksi dini responden yang sangat signifikan yaitu dari hanya 1 orang (2,9%) yang memiliki kemampuan deteksi yang baik, setelah diberikan pendidikan kesehatan meningkat menjadi 14 orang yang memiliki kemampuan deteksi baik. sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan ketiga katagori deteksi dini mempunyai hasil yang stabil, yaitu tidak adanya perbedaan dari hasil pre-test dan hasil post-test.


Tabel 3. Hasil Analisis Univariat pada kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


3. Upaya Pencegahan Flu Burung

Pada tabel 4 menunjukkan katagori nilai kelompok eksperimen dalam upaya pencegahan penyakit flu burung mempunyai hasil yang stabil antara sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan, sedangkan pada kelompok kontrol juga menunjukkan nilai yang stabil antara pre-test dan post-test.

4. Tindakan Pelaporan Kasus dan Pencarian Pertolongan Pertama

Berdasarkan gambar 3, sebagian besar responden pada kelompok eksperimen sudah mempunyai tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertama baik sebelum diberikan pendidikan kesehatan (82,4%) dan meningkat setelah pemberian pendidikan kesehatan, (97,1%). Sedangkan hasil nilai pre-test dan post-test pada kelompok kontrol cenderung mempunyai hasil yang stabil. Sebagian besar responden sudah mempunyai tindakan baik dan tidak ada responden yang mepunyai tindakan kurang.

5. Tingkat Kesiapsiagaan

Berdasarkan gambar 3, total hasil pre-test kuesioner pada kelompok eksperimen menunjukkan hanya 5 orang yang sudah siaga (85,3%) setelah pemberian pendidikan kesehatan, menunjukkan peningkatan (73,5%). Sedangkan total hasil kuesioner pada kelompok kontrol menunjukkan hasil yang stabil antara pre-test dan post-test yang sebagian besar sudah dikatagorikan siaga.

C. Analisis Bivariat

1. Uji Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan

Berdasarkan tabel 4, rata-rata hasil uji Paired sampel t-test pada kelompok eksperimen sebelum diberikan perlakuan (7,26) meningkat sebesar 7,16% setelah diberikannya perlakuan (7,82) dan nilai standar deviasinya sebesar 1,440. Nilai p pengetahuan pada kelompok eksperimen sebesar 0,030 < 0,050, sehingga Ho ditolak. Kesimpulannya adalah ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan responden melalui nilai pre-test dan pos-test. Sedangkan hasil uji Paired sampel t-test pengetahuan pada kelompok kontrol diperoleh p-value 0,10 > 0,050 sehingga Ho diterima. Maka kesimpulannya adalah tidak ada perbedaan perubahan nilai rata-rata pada kelompok kontrol antara nilai pre-test dan post-test, meskipun terjadi peningkatan nilai rata-rata pada kelompok kontrol dari pre-test (7,06) menjadi post-test (7,74) dengan nilai standar deviasinya sebesar 1,451.

2. Uji Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Deteksi Dini
Hasil uji Paired sampel t-test tentang deteksi dini pada kelompok eksperimen yang dapat dilihat pada tabel 4, terjadi peningkatan nilai rata-rata sebesar 59,63% sebelum diberikan pendidikan kesehatan dari nilai pre-test (3,94) menjadi nilai post-test (9,76) dengan nilai standar deviasinya sebesar 3,754. Nilai p sebesar 0,000 < 0,050, sehingga Ho diterima, maka kesimpulannya adalah ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap kemampuan deteksi dini responden antara nilai pre-test dan post-test. Sedangkan hasil uji Paired sampel t-test deteksi dini pada kelompok kontrol mengalami penurunan nilai rata-rata dengan nilai pre-test (4,29) dan nilai post-test (3,53) dengan standar deviasinya sebesar 3,026. Didapat p-value deteksi dini yaitu 0,150 > 0,05 yang berarti Ho diterima. Kesimpulannya adalah tidak ada perubahan nilai rata-rata pada kelompok kontrol antara nilai pre-test dan nilai post-test.

3. Uji Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Upaya Pencegahan

Tabel 4 menunjukkan hasil uji Wilcoxon signed rank test pada kelompok eksperimen diperoleh nilai p-value perilaku pencegahan sebesar 0,002 < 0,050, sehingga Ho ditolak. Maka kesimpulannya adalah ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap perilaku pencegahan penyakit flu burung responden yang dilihat melalui hasil pre-test dan post-test. Dari hasil skor rata-rata upaya pencegahan terjadi peningkatan nilai rata-rata setelah diberikan pendidikan kesehatan dari pre-test (21,47) menjadi post-test (22,76). Sedangkan hasil uji Paired sampel t-test perilaku pencegahan pada kelompok kontrol diperoleh p-value 0,489 > 0,050 sehingga Ho diterima, maka kesimpulannya adalah tidak ada perbedaan nilai rata-rata upaya pencegahan pada kelompok kontrol antara nilai pre-test dan post-test, meskipun terjadi peningkatan nilai rata-rata pada kelompok kontrol dari pre-test sebesar 21,47 menjadi post-test sebesar 21,74 dan nilai standar deviasinya sebesar 2,206.

4. Uji Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Tindakan Pelaporan Kasus dan Pencarian Pertolongan Pertama

Berdasarkan tabel 4, hasil uji Wilcoxon signed rank test tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama pada kelompok eksperimen diperoleh p-value 0,091 > 0,050 sehingga Ho diterima. Kesimpulannya adalah tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama pada kelompok eksperimen. Meskipun terjadi peningkatan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen dari nilai pre-test sebesar 10,88 menjadi nilai post-test sebesar 11,38 setelah pemberian pendidikan kesehatan. Sedangkan hasil uji Wilcoxon signed rank test tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama pada kelompok kontrol diperoleh p-value sebesar 0,625>0,050 sehingga Ho diterima. Kesimpulannya adalah tidak ada perbedaan nilai rata-rata pada kelompok kontrol antara nilai pre-test dan post-test. Meskipun terjadi peningkatan nilai rata-rata pada kelompok kontrol dari nilai pre-test sebesar 10,74 menjadi nilai post-test sebesar 10,88.

5. Uji Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Tingkat Kesiapsiagaan

Berdasarkan tabel 4, hasil uji Paired sampel t-test tingkat kesiapsiagaan pada kelompok eksperimen diperoleh p-value 0,000>0,050 sehingga ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat kesiapsiagaan, karena terjadi peningkatan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen dari pre-test (43,56) dan post-test (51,74) dan nilai standar deviasinya sebesar 5,765. Sedangkan hasil uji Paired sampel t-test tingkat kesiapsiagaan pada kelompok kontrol diperoleh p-value 0,662 > 0,050 sehingga kesimpulannya tidak ada perbedaan nilai rata-rata pada kelompok kontrol antara nilai pre-test dan post-test, meskipun terjadi peningkatan sedikit pada nilai rata-rata pada kelompok kontrol dari pre-test (43,56) menjadi post-test (43,88) dan nilai standar deviasinya sebesar 4,283.

6. Uji Perbedaan Skor Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Berdasarkan tabel 4, hasil uji Independent T-test pada hasil pre-test menunjukkan p-value sebesar 1,000 > 0,05 yang berarti Ho diterima, maka kesimpulannya adalah tidak ada perbedaan hasil pre-test antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan nilai rata-rata yang sama yaitu 43,56. Sedangkan hasil uji Independent T-test pada hasil post-test menunjukkan p-value sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti Ho ditolak, maka kesimpulannya adalah ada perbedaan hasil post-test antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Adapun nilai rata-rata post-test kelompok eksperimen sebesar 51,74 dan kelompok kontrol sebesar 43,88.

Tabel 4. Hasil Analisis Bivariat pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol menggunakan uji Paired sampel t-test dan uji Wilcoxon signed rank test

Tabel 5. Hasil Uji Independent T-test berdasarkan nilai pre-test dan post-test

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol


PEMBAHASAN

A. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan

Pendidikan kesehatan yang diberikan pada kelompok eksperimen berupa penyuluhan yang diberikan langsung oleh peneliti dengan menggunakan media power point dan LCD Metode penyuluhan dipilih karena metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah (Notoatmodjo, 2007). Menurut Wawan dan Dewi (2010), pengetahuan itu sendiri dapat dipengaruhi oleh pendidikan formal. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin luas pengetahuannya dan semakin mudah dalam menerima suatu informasi. Dapat diketahui bahwa responden pada kelompok eksperimen memiliki tingkat pendidikan yang bervariasi yaitu tidak sekolah (2,9%), lulus SD (14,7%), lulus SMP (32,4%), dan perguruan tinggi (5,9%).

Proses komunikasi dilakukan untuk menyampaikan pesan atau informasi tentang flu burung, di mana dengan informasi tersebut masyarakat diharapkan akan meningkatkan kesadarannya akan bahaya flu burung (Purnaningsih dan Lubis, 2010). Dengan kesadaran tersebut masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam upaya penanggulangannya, maka dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan responden terhadap kejadian penyakit flu burung sewaktu-waktu dilakukan penyuluhan kesehatan dengan materi pengetahuan tentang flu burung, deteksi dini tanda dan gelaja flu burung baik pada unggas maupun pada manusia, upaya pencegahan penyakit flu burung, serta tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama pada penderita.

Pada kelompok eksperimen, tingkat pengetahuan reponden tentang penyakit flu burung saat pre-test menunjukkan distribusi pengetahuan kurang hanya 1 responden (2,9%), pengetahuan cukup 18 responden (52,9%) dan pengetahuan baik sejumlah 15 reponden (44,1%). Setelah diberikan pendidikan kesehatan, nilai post-test tingkat pengetahuan responden pada kelompok eksperimen meningkat, bisa dilihat dengan distribusi tertinggi yaitu responden dengan pengetahuan baik sebanyak 20 responden (58,8%), sedangkan responden yang berpengetahuan cukup sejumlah 14 reponden (41,2%) dan tidak ada responden yang berpengetahuan kurang.

Hasil analisis pada kelompok eksperimen menggunakan uji statistik Paired sample t-test, menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan pada kelompok eksperimen pada saat pre-test dan post-test. Hal ini ditunjukkan adanya perbedaan dari nilai rata-rata tingkat pengetahuan pada kelompok eksperimen saat pre-test (7,26) < post-test (7,82) dengan peningkatan sebesar 7,16% dan diperoleh nilai p-value (0,030 < 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit flu burung terhadap tingkat pengetahuan reponden pada kelompok eksperimen.

B. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Deteksi Dini
Deteksi dini penyakit flu burung merupakan kemampuan responden dalam mengenali gejala dan tanda dari penyakit flu burung baik pada unggas maupun manusia. Salah satu penyebabnya adalah deteksi dini yang masih sulit dilakukan, baik disebabkan karena kesadaran manusia maupun kewaspadaan petugas yang masih rendah (Sedyaningsih, E, R, dkk, 2006).

Berdasarkan distribusi hasil pre-test deteksi dini pada kelompok eksperimen menunjukkan sebanyak 33 responden (97,1%) masih mempunyai kemampuan deteksi kurang dan hanya 1 responden yang mempunyai kemampuan deteksi dini baik (2,9%). Dari hasil post-test yang dilaksanakan 3 hari setelah pemberian pendidikan kesehatan didapat peningkatan kemampuan responden dalam mendeteksi gejala dan tanda flu burung dibandingkan dengan hasil pre-test yang sudah dilaksanakan. Hasil post-test menunjukkan distribusi kemampuan responden tertinggi adalah berkemampuan baik yaitu 14 responden (41,2%) yang sebelumnya hanya 1 reponden saja (2,9%). Sedangkan reponden yang mempunyai kemampuan cukup sebanyak 11 reponden (32,4%) dan yang mempunyai kemampuan kurang berkurang menjadi 9 responden (26,5%).

Dari hasil analisis menggunakan uji Paired sampel t-test pada nilai pre-test dan post-test deteksi dini kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan rata-rata yang sangat signifikan antara hasil pre-test (3,94) dan post-test (9,76) yang meningkat sebesar 59,63%. Dan dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang flu burung terhadap kemampuan deteksi dini responden mengenai gejala dan tanda penyakit flu burung baik pada unggas maupun pada manusia. Peningkatan ini dimungkinkan karena penangkapan dan daya ingat responden terkait dengan materi tentang deteksi dini flu burung yang disampaikan ketika pendidikan kesehatan dapat tersampaikan secara baik.

C. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Upaya Pencegahan
Menurut Depkes RI (2006), upaya pencegahan penularan penyakit flu burung dilakukan dengan cara menghindarkan bahan yang terkontaminasi kotoran dan secret unggas dengan tindakan universal precaution. Selain tindakan universal precaution, untuk menekan resiko penularan virus avian influenza perlu diterapkannya biosekuriti yang ketat di pasar, alat angkut untuk unggas, dan di rumah tangga (Antara, 2009).

Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap upaya pencegahan penyakit flu burung responden dapat dilihat dengan hasil nilai menjawab pertanyaan pada kuesiner pada saat pre-test dan post-test. Berdasarkan distribusi hasil pre-test upaya pencegahan pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa perilaku pencegahan responden terhadap penyakit flu burung sudah baik. Hal ini dapat dilihat bahwa sejumlah 32 responden (94,1%) sudah mempunyai perilaku pencegahan yang baik dan hanya 2 reponden (5,9%) mempunyai perilaku pencegahan cukup. Hasil post-test yang dilakukan 3 hari setelah pemberian pendidikan kesehatan menunjukkan distribusi perilaku baik responden terhadap pencegahan penyakit flu burung bertambah menjadi 33 responden (97,1%) dan yang berpengetahuan cukup hanya 1 orang (2,9%).

Hasil uji analisis dengan menggunakan uji Wilcoxon signed rank test menunjukkan peningkatan rata-rata antara hasil pre-test sebesar 21,47 dan post-test sebesar 22,76 yang meningkat sebesar 5,66%. Sementara itu juga diperoleh nilai p-value sebesar (0,002 < 0,05) sehingga Ho ditolak, maka dapat diambil kesimpulan ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit flu burung terhadap upaya pencegahan.

Menurut Cahyaningsih dan Duana (2013), semakin tinggi tingkat pendidikan responden semakin banyak pula proporsi responden memiliki upaya pencegahan yang baik dan terdapat perbedaan yang bermakna serta semakin tinggi tingkat pengetahuan responden semakin banyak proporsi responden memiliki upaya pencegahan baik dan terdapat perbedaan bermakna.

D. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Tindakan Pelaporan Kasus dan Pencarian Pertolongan Pertama
Kecepatan tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama sangat penting dilakukan oleh masyarakat jika ada serangan atau penderita dugaan penyakit flu burung sewaktu-waktu. Menurut Kementerian Kesehatan (2013), salah satu tindakan kewaspadaan dini dalam rangka pengendalian flu burung adalah jika ada penemuan itik, bebek, entok dan unggas air lainnya yang sakit atau mati mendadak segera melaporkan ke Dinas Peternakan terdekat atau pemuka masyarakat (Kepala Desa/Lurah, Ketua RT/RW dan tokoh masyarakat lainnya). Salah satu peran serta masyarakat yang dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kejadian flu burung adalah dengan segera mencari pertolongan pertama ke sarana pelayanan kesehatan terdekat jika ada yang dicurigai terkena flu burung (Depkes RI 2008),.

Berdasarkan distribusi hasil pre-test tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa responden yang memiliki tindakan baik sebanyak 28 responden (82,4%), tindakan cukup sebanyak 4 responden (11,8%) dan tindakan kurang sebanyak 2 responden (5,9%). Hasil post-test menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan yaitu responden yang memiliki tindakan baik terhadap pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama meningkat menjadi 33 responden (97,1%) dan yang mempunyai tindakan cukup hanya 1 responden saja (2,9%).

Dengan melihat data pada kelompok eksperimen yang tidak normal, maka analisis yang digunakan adalah uji Wilcoxon signed rank test pada nilai pre-test dan post-test upaya pencegahan kelompok eksperimen. Hasil uji analisis dengan menggunakan uji Wilcoxon signed rank test menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 4,39% dengan hasil pre-test sebesar 21,47 dan post-test sebesar 22,76. Sementara itu juga diperoleh nilai p-value sebesar (0,113 > 0,05) sehingga Ho diterima, maka dapat diambil kesimpulan tidak ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit flu burung terhadap tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama. Hal ini dimungkinkan karena sudah adanya kesadaran dan perilaku baik reponden dalam rangka pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama pada penderita ke sektor-sektor terkait.

E. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Tingkat Kesiapsiagaan
Kegiatan kesiapsiagaan meliputi kegiatan terintregasi yang dilaksanakan secara nasional, lintas program dan lintas sektor serta terpadu secara vertikal maupun horizontal dengan mengikutsertakan secara aktif seluruh pemangku kepentingan dan peran aktif seluruh lapisan masyarakat yang meliputi peran jajaran kesehatan, pemangku kepentingan, dan peran serta masyarakat (Depkes RI, 2008).

Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kesiapsiagaan yaitu perilaku baik masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya serangan virus avian influenza sewaktu-waktu pada unggas maupun pada manusia meliputi pengetahuan yang baik, ketepatan deteksi dini gejala dan tanda penyakit flu burung, perilaku pencegahan penyakit flu burung yang baik, serta kecepatan tindakan pelaporan kasus dan pencarian pertolongan pertama yang ditandai dengan kemampuan responden dalam menjawab kuesioner pada saat pretest dan posttest. Hasil nilai kemudian digolongkan menjadi 2 katagori yaitu siaga (>rata-rata), dan belum siaga (

Berdasarkan distribusi hasil pre-test terhadap total skor pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa kesiapsiagaan responden masih dikatagorikan belum siaga, yaitu sebanyak 29 reponden (85,3%) dan yang sudah bisa dikatakan siaga hanya 5 responden (14,7%). Hasil post-test menunjukkan distribusi kesiapsiagaan responden dengan katagori siaga sebanyak 25 responden (73,5%) dan yang masih dikatagorikan belum siaga sebanyak 9 responden (26,5%).

Dari hasil analisis menggunakan uji Paired sampel t-test test pada nilai pre-test dan post-test upaya pencegahan kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 15,8% dari hasil pre-test (43,56) dan post-test (51,74). Sementara itu nilai p-value diperoleh sebesar (0,000 < 0,05) sehingga Ho ditolak, maka dapat diambil kesimpulan ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit flu burung terhadap tingkat kesipaisgaan responden terhadap kejadian flu burung sewaktu-waktu.

Menurut Miftahudin dan Kartinah (2008), semakin baik pengetahuan dari masyarakat, maka akan semakin mempunyai sikap positif. Hal ini sama dengan hasil rata-rata nilai postest kesiapsiagaan pada kelompok eksperimen yang meningkat menjadi 15,8% setelah pemberian pendidikan kesehatan.

F. Perbedaan Skor antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Pendidikan kesehatan merupakan bentuk metode penyampaian pesan kesehatan tentang penyakit flu burung dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dengan cara pemberian penyuluhan dan tanya jawab secara langsung oleh peneliti yang meliputi pengetahuan, deteksi dini, upaya pencegahan, tindakan pelaporan dan pencarian pertolongan pertama terhadap kejadian flu burung. Pemilihan pendidikan kesehatan dengan menggunakan metode penyuluhan karena dilakukan pada peserta kelompok besar dengan lebih dari 15 orang. Dalam penelitian ini responden yang masuk dalam kelompok eksperimen (kelompok yang diberi pendidikan kesehatan tentang penyakit flu burung sejumlah 34 yang didapat dari penghitungan besar sampel menggunakan rumus Sample Size for Frequency in a Population).

Menurut Purnaningsih dan Lubis (2010) Semua media komunikasi (termasuk media massa) perlu digerakkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang berbagai risiko yang ada di sekitar kita, termasuk flu burung. Menurut Notoatmodjo (2007) beberapa metode yang dapat digunakan dalam pendidikan kesehatan bersifat massa (public) adalah ceramah umum (public speaking), pidato atau diskusi melalui media massa, simulasi, sinetron, tulisan-tulisan di majalah atau koran serta dapat juga melalui bill board yang dipasang di pinggir jalan. Intervensi Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) berupa pelatihan, distribusi poster, spanduk, serta stiker tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit flu burung dapat meningkatkan pengetahuan yang baik dari 96,3% menjadi 100%, sikap yang positif dari 98,3% menjadi 100%, serta tindakan pencegahan dan penanggulangan penyakit flu burung yang positif dari 2,5% menjadi 100% (Said, 2010). Sedangkan menurut Mardiningsih (2009), promosi kesehatan tentang flu burung melalui media cetak berwarna dapat meningkatkan pengetahuan 21% dan media cetak komik tidak berwarna dapat meningkatkan pengetahuan 25,6%.

Pelaksanaan pendidikan kesehatan dilakukan dengan menggunakan media slide power point dengan bantuan LCD. Berdasarkan Hasil Uji Independent T-test berdasarkan nilai pre-test kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan tidak ada perbedaan sama sekali antar rata- rata pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil p-value didapat 1,000 > 0,05 yang berarti Ho diterima, maka kesimpulannya adalah tidak ada perbedaan hasil pre-test antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

Sedangkan dari hasil uji Independent T-test pada hasil post-test menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti Ho ditolak, maka kesimpulannya adalah ada perbedaan hasil post-test antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Adapun rata-rata nilai post-test kelompok eksperimen sebesar 51,74 dan kelompok kontrol sebesar 43,88. Maka pemberian pendidikan kesehatan tentang flu burung dengan metode penyuluhan efektif dapat meningkatkan tingkat kesiapsiagaan responden dalam menyikapi terjadinya penyakit flu burung sewaktu-waktu.


PENUTUP

A. SIMPULAN

  1. 1. Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Desa Gondangmanis, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.

  2. 2. Rata-rata pengetahuan responden pada kelompok eksperimen pada hasil pre-test sebesar 7,26 dan post-test sebesar 7,82. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata hasil pre-test sebesar 7,06 dan post-test sebesar 7,74.

  3. 3. Rata-rata skor deteksi dini responden pada kelompok eksperimen pada hasil pre-test sebesar 3,94 dan meningkat pada hasil post-test sebesar 9,76. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata hasil pre-test deteksi dini sebesar 4,29 dan terjadi penurunan pada hasil post-test sebesar 3,53

  4. 4. Rata-rata skor upaya pencegahan flu burung responden pada kelompok eksperimen pada hasil pre-test sebesar 21,47 dan terjadi kenaikan pada hasil post-test sebesar 22,76. Sedangkan pada hasil skor upaya pencegahan penyakit flu burung kelompok kontrol rata-rata hasil pre-test sebesar 21,47 dan post-test sebesar 21,74.

  5. 5. Rata-rata skor tindakan pelaporan dan pencarian pertolongan pertama responden pada kelompok eksperimen pada hasil pre-test sebesar 10,88 dan terjadi kenaikan pada hasil post-test sebesar 11,38. Sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata tindakan pelaporan dan pencarian pertolongan pertama hasil pre-test sebesar 10,74 dan post-test sebesar 10,88.

  6. 6. Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Desa Gondangmanis, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar dilihat dari hasil uji Paired sampel t-test diperoleh p-value 0,000>0,050 dan adanya peningkatan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen dari pre-test (43,56) dan post-test (51,74).

  7. 7. Ada perbedaan hasil post-test antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilihat dari hasil uji Independent T-test yang menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000<0,05 dengan rata-rata nilai post-test kelompok eksperimen sebesar 51,74 dan kelompok kontrol sebesar 43,88.

  8. 8. Pemberian pendidikan kesehatan tentang flu burung dengan metode penyuluhan efektif dapat meningkatkan tingkat kesiapsiagaan responden dalam menyikapi terjadinya penyakit flu burung sewaktu-waktu.


B. SARAN

1. Bagi Masyarakat
Lebih menggali lagi informasi tertang flu burung untuk menambah tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat sehingga masyarakat lebih siaga jika terjadi serangan penyakit flu burung sewaktu-waktu dan menerapkan ilmu yang sudah didapat pada saat pemberian pendidikan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyakit flu burung.

2. Bagi Dinas Terkait
Memperbanyak sosialisasi-sosialisasi tentang masalah kesehatan terutama pada penyakit flu burung untuk menambah pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat.

3. Bagi Fakultas Ilmu Kesehatan
Menambah reverensi tentang penyakit flu burung khususnya tentang kesiapsiagaan menghadapi pandemi untuk bahan tambahan penelitian serupa.

4. Bagi Peneliti Lain
Bagi peneliti lain yang ingin meneliti dengan tema yang sama, dapat menggunakan metode selain ceramah, misalnya dengan pelatihan, simulasi, permainan, dll untuk membandingkan keefektifan metode lain dan bagi yang ingin melanjutkan penelitian ini, dapat mengganti variabel lain terkait kesiapsiagaan menghadapi penyakit flu burung selain peran serta masyarakat, misalnya pengaruh peran jajaran kesehatan atau peran pemangku kepentingan tentang penyakit flu burung.














Kategori Berita

Arsip File