Kewaspadaan terhadap Bioterorisme

Bioterorisme merupakan salah satu kasus yang berpotensi menimbulkan PHEIC (Public Health Emergency of International Concern) yang kemunculannya sewaktu-waktu harus kita waspadai. Bioterorisme adalah suatu kegiatan teror dengan menggunakan bahan-bahan biologis sebagai senjatanya. Dampak yang ditimbulkan dari bioterorisme ini sangat menakutkan, bahkan lebih berbahaya daripada terorisme dengan bahan peledak. Hal itu dikarenakan bioterorisme dapat menjangkau pada area yang sangat luas, dapat disebarkan melalui udara, air, makanan, hewan, dan sebagainya serta dampak yang ditimbulkan dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Sehingga bioterorisme dapat dilancarkan antar wilayah dan antar negara yang dapat menimbulkan jumlah korban yang sangat besar. Dampaknya dapat melumpuhkan sektor politik, ekonomi, keamanan, kesehatan, dan bahkan peradaban suatu bangsa. Selain itu, bakteri patogen yang digunakan sebagai senjata bioterorisme sulit dilacak karena tidak berbau dan tidak kasat mata.

Sejarah bioterorisme sudah dimulai sejak jaman dulu kala, antara lain di abad ke 6 sebelum masehi, tentara Asiria meracuni air sumur dari musuhnya dengan ergot, suatu jamur yang memproduksi racun yang sering ditemukan pada rogge (sebangsa gandum). Kemudian pada tahun 1346, Pasukan Tartar melemparkan penderita pes ke belakang garis pertahanan lawan untuk memperoleh kemenangan. Pada tahun 1520, Francisco Pizarro, seorang Jendral Spanyol yang memimpin penaklukan kerajaan Inca di Peru, memberikan pakaian yang mengandung kuman cacar kepada orang Inca. Tahun 1736, Inggris diduga kuat juga menggunakan patogen untuk menghancurkan musuh mereka sewaktu proses penjajahan Amerika Utara. Negara itu disinyalir mendistribusikan selimut yang mengandung kuman cacar kepada orang Indian.

Bioterorisme juga mewarnai dalam sejarah perang dunia ke II. Dalam bukunya, Bio Hazard, Ken Alibek yang pernah menjabat sebagai wakil ketua pengembangan senjata biologis Uni Soviet tahun 1988-1991, menjabarkan pengalamannya dan riset yang tertera dalam arsip-arsip Soviet. Menurut hasil penemuannya, Uni Soviet telah menggunakan kuman yang menyebabkan penyakit tularemia pada unit Wehrmacht (angkatan bersenjata Jerman) sewaktu pertempuran Stalingard tahun 1942. Gejala dari penyakit ini adalah sakit kepala, mual dan demam tinggi yang menyebabkan kematian bila tidak dirawat. Sementara itu berdasarkan informasi dari Gestapo (polisi rahasia jerman), ternyata Uni Soviet mengembangkan senjata biologis secara lebih serius. Soviet memiliki 8 fasilitas instalasi senjata biologis di negara mereka untuk menguji kuman antraks dan penyakit kaki-mulut. Gestapo juga melaporkan bahwa Inggris menguji kuman antraks, disentri, dan glander. Amerika Serikat bahkan mengembangkan senjata biologis di Arsenal Edgewood di Maryland dan Pine Bluff di Arkansas. Jerman juga mengembangkan senjata biologis. Namun fungsinya hanya terbatas untuk sabotase ekonomi dan pertanian. Jerman tidak pernah serius mengembangkan patogen yang menyerang manusia, namun mengembangkan patogen untuk menghancurkan pertanian dan peternakan musuh-musuhnya. Tentara Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler justru kurang suka untuk mengembangkan senjata biologis secara serius dan terencana. Justru Hitler mengarahkan riset Jerman kepada usaha defensif untuk menahan serangan senjata biologis dari pihak sekutu dengan mengembangkan vaksin penangkalnya.

Pada invasi tentara Jepang di Cina (tahun 1937 1945), Jepang juga telah menggunakan senjata biologis yang mengandung bakteri dan virus pathogen, seperti bakteri penyebab demam tifoid, kolera, antraks, dan cacar (variola). Sekitar 5000 10.000 penduduk Cina meninggal dalam peristiwa ini. Pada tahun 1979 di Sverdlovsk, negara bekas Uni Soviet pada fasilitas mikrobiologi militer yang mengembangkan senjata biologis antraks, mengalami kecelakaan/kebocoran sehingga aerosol spora antraks keluar. Peristiwa ini mengakibatkan sekitar 79 kasus antraks dan 66 orang meninggal. Pada tahun 1984, Kota Oregon Amerika Serikat diserang oleh kelompok radikal dengan menggunakan zat racun makanan salmonella untuk mencemari bar-bar dalam usaha untuk mempengaruhi pemilihan umum setempat. Kelompok teroris ini memilih zat untuk melumpuhkan bukan untuk mematikan, sehingga serangan mereka berhasil membuat sakit sebanyak 751 orang, tetapi tidak ada yang mati. Kemudian pada tahun 2001 kantor pusat American Media Inc mendapat kiriman surat berisi serbuk antraks. Kemudian sejumlah kantor lain serta kantor senator Tom Daschle mendapat kiriman serupa. Akibatnya, 17 orang terkena antraks dan 4 diantaranya meninggal.

Jenis mikroorganisme yang mudah digunakan sebagai senjata biologis untuk kegiatan bioterorisme antara lain sebagai berikut:

1.  Bacillus Anthraxis (Antraks)

2.  Clostridium botullinum (Botulisme)

3.  Virus Smallpox (Cacar)

4.  Yersinia pestis (Pes)

5.  Virus Ebola (penyakit Ebola)

6.  Virus Rabies (penyakit Rabies)

7.  Francisella tularensis (Tularemia)

8.  Salmonella typhi (Demam tifoid)

9.  Brucella (Brucellosis), dan sebagainya

Dari semua mikroorganisme di atas, penggunaan bakteri antraks masih merupakan pilihan utama dalam bioterorisme karena sifatnya yang mudah menular, jangkauan penularannya sangat luas, dan tingkat kematiannya yang tinggi.

Untuk mencegah bioterorisme, hal yang perlu dilakukan antara lain dengan melakukan pengawasan faktor risiko PHEIC di pintu masuk negara (point of entry) termasuk faktor risiko masuknya bioterorisme melalui alat angkut, melakukan pendataan terhadap para peneliti dan perusahaan yang bergerak di bidang biologi, biomedis, dan biokimia, memberikan insentif yang tinggi kepada para peneliti atau ahli-ahli di bidang biologi, kimia, dan nuklir agar tidak mudah digalang oleh agen atau negara asing, tidak mudah dalam memberikan izin penelitian kepada peneliti asing terutama yang meneliti terkait dengan permasalahan biologi dan kimia, mengembangkan vaksin produksi dalam negeri untuk menangkal berbagai penyakit yang berpotensi mengakibatkan wabah, tidak mudah mengirimkan sampel bakteri/virus ke laboratorium asing/luar negeri, bekerjasama dengan negara dan lembaga intelijen lainnya untuk sharing informasi dan perkembangan terkait kemungkinan adanya serangan bioterorisme, serta melakukan pelatihan dan evakuasi terhadap masyarakat jika terjadi serangan bioterorisme. (Ariyanto, SKM)



Gambar bakteri antraks (kiri) dan virus cacar (kanan) sering digunakan sebagai senjata biologis dalam bioterorisme

 


Lambang kewaspadaan terhadap bahan-bahan biologi berbahaya termasuk bioterorisme

 

 

Referensi:

1.  Anies. (2014). Bungai rampai kedokteran lingkungan: pengaruh lingkungan terhadap perkembangan penyakit. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

2.  www.netsains.net

3.  www.theglobal-review.com

4.  www.waspada.co.id

 














Kategori Berita

Arsip File