Pedofilia, penyimpangan seksual yang berdampak sistemik

Ternyata tidak hanya kasus Bank Century saja yang berdampak sistemik, di Indonesia ini ada suatu kasus yang sangat perlu mendapatkan perhatian serius, yaitu pedofilia. Kasus pedofilia dapat dikatakan berdampak sistemik karena berpotensi besar menyebar secara turun-temurun. Artinya para korban pedofilia juga berisiko mengalami kelainan seksual di masa depannya dan melakukan hal serupa kepada orang lain sebagai wujud pelampiasan atas trauma mendalam di masa lalu. Sehingga satu korban pedofilia dapat melahirkan para pedofil-pedofil baru dan dapat berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi. Seorang pedofil dalam memperlakukan korbannya dapat bervariasi mulai dari pelecehan seksual pada anak sampai pada beberapa kasus berujung dengan pembunuhan sadis. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana nasib generasi penerus bangsa jika kasus pedofilia ini masih merajalela di bumi Indonesia ini. Yang lebih mencengangkan lagi adalah bahwa menurut FBI (Federal Bureau Investigation) kasus pedofilia di Indonesia sampai saat ini adalah yang tertinggi di Asia.

Pedofilia dikelompokkan dalam penyakit Parafilia, yakni penyimpangan gairah dalam melampiaskan nafsu seksual. Biasanya penderita melakukan pemyimpangan dari norma-norma dalam berhubungan seksual yang selama ini dipertahankan secara tradisional. Dan secara sosial aktivitas seksual penderita tidak dapat diterima. Pedofilia terdiri dari dua suku kata; pedo (anak) dan filia (cinta), sehingga pedofilia merupakan kecenderungan seseorang yang telah dewasa baik pria maupun wanita untuk melakukan aktivitas seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual dengan anak-anak kecil. Biasanya anak-anak yang menjadi korban berumur dibawah 13 tahun (usia prabuber), sedangkan penderita umumnya berumur diatas 16 tahun. Pelaku pedofilia sebagian besar adalah pria, tetapi ada juga wanita yang menunjukkan gangguan tersebut walaupun jumlahnya kecil.

Banyak kasus pedofilia yang sudah terjadi di Indonesia. Yang belum lama ini terjadi adalah kasus pedofilia di Jakarta International School (JIS). Di JIS sementara ini terdapat 2 anak yang mengalami kekerasan seksual, yang pelakunya sudah ditangkap berjumlah 6 orang yang merupakan petugas kebersihan di Sekolah itu. Sampai saat ini masih terus diselidiki adanya korban lain dan dugaan keterlibatan guru, staf, dan bahkan kepala sekolah. Di Sukabumi terdapat kasus pedofilia yang telah ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) oleh Pemda Sukabumi. Hal itu dikarenakan kasus pedofilia yang dilakukan Andri Sobari alias Emon, korbannya mencapai 110 anak.


Polisi sedang mengadakan penyelidikan kasus pedofilia di JIS

Jauh sebelum itu, pada tahun 1996 terdapat kasus pedofilia dengan pelaku bernama Siswanto alias Robot Gedek yang menyodomi sekaligus membunuh 12 orang anak. Selain itu ada Mario Manara warga negara Italia yang mencabuli 9 anak pada tahun 2001 di Buleleng, Bali. Pada tahun 2008 ada Philip Robert warga negara Australia dengan korban 9 anak di Singaraja, Bali. Yang tak kalah heboh pada tahun 2010 di Jakarta, Baekuni alias Babe mencabuli sekaligus membunuh 14 bocah yang merupakan anak jalanan, 4 di antaranya dimutilasi. Kasus di atas hanya sedikit contoh kasus yang dimuat di Media, yang pasti masih banyak kasus-kasus lain yang telah ditangani KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) dan Kepolisian RI, serta dimungkinkan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya yang tidak terungkap. Sebagian besar korban pedofilia dan orang tua korban enggan melaporkan kejahatan yang mereka alami karena malu. Bahkan banyak korban yang tidak bisa melaporkan kejahatan tersebut karena telah dibunuh. Data KPAI menyebutkan bahwa di tahun 2013 terdapat 1620 kasus pelecehan seksual terhadap anak, dan di Tahun 2014 ini sampai bulan April saja kasusnya telah mencapai 486 kasus.

Penyebab dari pedofilia belum diketahui secara pasti. Namun pedofilia seringkali menandakan ketidakmampuan berhubungan dengan sesama dewasa atau adanya ketakutan untuk menjalin hubungan dengan sesama dewasa. Jadi bisa dikatakan sebagai suatu kompensasi dari penyaluran nafsu seksual yang tidak dapat disalurkan pada orang dewasa. Kebanyakan penderita pedofilia menjadi korban pelecehan seksual pada masa kanak-kanak. Adapun aktivitas seks yang dilakukan oleh para pedofil sangat bervariasi, misalnya dengan menelanjangi anak, melakukan masturbasi dengan anak, bersenggama dengan anak, stimulasi oral pada anak, penetrasi pada mulut anak, vagina ataupun anus dengan jari, benda asing atau dengan penis. Dan yang mengenaskan pelaku tak segan membunuh korbannya untuk menghilangkan jejak. Praktik pedofilia yang tidak senonoh ini pastilah akan berdampak sangat negatif bagi anak. Bukan hanya akan merusak masa depan anak secara fisik saja, tetapi lebih dari itu akan merusak mental dan kejiwaan pada anak. Gangguan depresi berat akibat pengalaman pahit dan menjijikkan yang dialaminya bisa jadi akan terbawa kelak hingga dewasa dan dapat menumbuhkan efek balas dendam kepada anak lainnya.

Untuk mengantisipasi tindak kejahatan pedofilia ini orang tua hendaknya selalu peka dan pro aktif untuk melakukan tindakan perlindungan dan pengawasan terhadap segala aktifitas sang anak. Bangun Komunikasi yang baik, berikan pengertian pada si anak untuk selalu terbuka terhadap segala hal yang menyangkut kehidupan sehari-harinya. Pastikan anak merasa nyaman dan percaya dengan orang tuanya, sehingga si anak dapat diajak berbagi tentang segala permasalahan yang dihadapinya. Tanamkan bahwa orang tua juga adalah sahabatnya. Beri pemahaman tentang nama dan fungsi organ tubuhnya sejak dini, termasuk organ intimnya seperti penis, vagina, maupun payudara. Berikan penjelasan bahwa organ-organ itu harus dijaga dengan baik, tidak boleh sembarangan dipegang orang lain. Dan yang tak kalah penting adalah pengawasan terhadap tumbuh kembang anak, terutama yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, orientasi seksualnya, perilaku, serta lingkungan pergaulannya. Arahkan untuk berperilaku sesuai dengan jatidiri, tingkatan umur, sejalan dengan norma yang berlaku, mengekspresikan diri dalam kegitan yang positif, serta jauhkan dari hal-hal negatif seperti akses  terhadap film, gambar, maupun situs-situs porno di internet. Segera konsultasi ke psikolog apabila terjadi keanehan dalam hal tumbuh kembang kejiwaan anak terutama yang mengarah ke penyimpangan seksual. Hal ini ditujukan untuk mencegah munculnya perilaku pedofilia sejak dini.

Pada para korban pedofilia hendaknya diberikan pemulihan psikisnya secara intensif. Perkembangannya harus selalu dimonitor, atasi timbulnya trauma yang mendalam yang berakibat pada terjadinya gangguan psikis berat atau bahkan si korban akan berubah menjadi pelaku pedofilia di kemudian hari. Selain itu hendaknya terus digencarkan kampanye untuk memerangi pedofilia. Pada gangguan pedofilia yang masih ringan (masih sebatas fantasi dan imajinasi), diharapkan mendapatkan pendampingan, konsultasi dan rehabilitasi untuk penyembuhan agar tidak berkembang pada gangguan pedofilia berat.

Pengawasan terhadap komunitas anak seperti di sekolah, kelompok bermain, lembaga kursus/pelatihan anak, komunitas anak jalanan, dan sebagainya hendaknya lebih ditingkatkan lagi baik oleh Pemerintah, aparat kepolisian, LSM, maupun seluruh lapisan masyarakat. Jika mengetahui tindakan pelecehan seksual pada anak segera laporkan ke Kepolisian agar kasusnya segera ditindak lanjuti dengan cepat. Dan tentu saja hukuman pelaku pedofilia hendaknya diperberat, mengingat dampak mengerikan pada si korban. Hal itu atas dasar pelaku pidana meninggalkan trauma seumur hidup pada korban. Tetapi di sisi lain, selain sanksi pidana para pelaku hendaknya juga perlu dilakukan rehabilitasi (pada taraf yang masih bisa diperbaiki) untuk diberikan terapi pada kondisi kejiwaannya agar ketika bebas pelaku tidak lagi melakukan seks menyimpang dan tidak mengulangi perbuatannya. (Ariyanto, SKM)


Komunitas anak jalanan dan anak sekolah, rawan sebagai korban pedofilia



Hentikan Pedofilia, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa

Sumber:

1. www.id.wikipedia.org

2. www.tempo.co

3. www.kpai.go.id

4. www.hidayatullah.com

5. www.ganendra.blogdetik.com















Kategori Berita

Arsip File