Waspadai penyebaran Virus Ebola

Saat ini, di Guinea (Guyana), Afrika Barat sedang merebak penularan virus Ebola. Menurut data dari WHO tanggal 9 Mei 2014 yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan Guinea, terdapat 236 kasus klinik virus Ebola dengan 158 kematian. Dari jumlah tersebut 129 diantaranya adalah kasus konfirmasi laboratorium dengan uji PCR yang mengakibatkan 84 kematian. Dan 107 sisanya adalah kasus propable (74 kasus meninggal dunia). Merebaknya virus Ebola di Guinea ini berlangsung sejak awal Februari 2014, dan saat ini diperkirakan mulai menyebar ke negara tetangga yaitu di Liberia dan Sierra Leone yang kasusnya masih terus dilakukan penyelidikan epidemiologi. Ebola pertama kali menyebar pada tahun 1976 di negara Sudan dan Kongo. Daerah yang pertama terjangkit berada di aliran Sungai Ebola, Kongo yang kemudian dijadikan nama penyakit ini. Sampai sekarang Ebola masih risiko tinggi mewabah terutama di desa-desa terpencil di Afrika Barat dan Tengah, dekat hutan hujan tropis. Virus Ebola harus terus diwaspadai penyebarannya di dunia, mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang mudah menular dan sangat mematikan, menurut WHO angka Case Fatality Rate/ CFRnya dapat mencapai 90 %.

Penyakit Ebola atau sering disebut dengan Ebola Virus Disease (EVD), adalah penyakit yang disebabkan sejenis virus dari genus Ebolavirus, famili Filoviridae. Virus ini pertama ditemukan pada tubuh seekor monyet di Afrika, yang kemudian diketahui dapat menular ke manusia. Virus ini menyerang sel-sel pertahanan tubuh dan sangat mematikan. Tingkat kematian yang disebabkan virus Ebola sangat tinggi, yaitu berkisar 50 - 90%. Ebola dapat menyerang baik manusia maupun hewan. Hewan liar seperti kelelawar, kera, gorila,  simpanse, antelop hutan sangat rentan menderita ebola dan dapat menularkannya ke manusia. Penularan dari hewan ke manusia dapat melalui kontak langsung dengan hewan hidup atau mati maupun karena mengkonsumsi produk hewan tersebut (daging, darah, susu).

Ebola dapat dengan cepat menular antar manusia yang ditularkan dengan kontak langsung melalui jaringan tubuh, darah, sekresi, dan cairan tubuh lainnya. Dan dapat pula menular dengan tidak langsung yaitu melalui lingkungan yang terkontaminasi virus ebola. Bahkan pelayat pada upacara pemakaman orang yang meninggal karena Ebola pun juga rentan tertular karena kontak langsung maupun tak langsung dengan jenazah. Kelelawar buah dianggap sebagai host/inang virus Ebola dan dianggap sebagai penyebar virus ini. Virus Ebola menyebar dalam darah dan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh. Ebola sering ditandai dengan demam mendadak, kelemahan yang intens, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Gejala ini diikuti dengan muntah, diare, ruam merah pada kulit, gangguan fungsi ginjal serta hati, dan dalam beberapa kasus terjadi perdarahan internal ataupun eksternal seperti dari hidung, mulut, telinga, urine, bahkan melalui pori-pori tubuh. Masa Inkubasi Ebola berkisar 2 21 hari.

Gambar Virus Ebola dilihat dari mikroskop elektron

Diagnosa Ebola dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium antara lain dengan metode tes antibodi Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), tes deteksi antigen, tes penetralan serum, Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), mikroskop elektron, dan isolasi virus dengan kultur sel. Hingga saat ini belum ditemukan pengobatan ataupun vaksin untuk penyakit ini. Pengujian vaksin kepada hewan primata menunjukkan hasil yang menggembirakan dan masih terus diteliti pengujian ke manusia. Penanganan pasien dilakukan dengan perawatan intensif di rumah sakit, pemberian cairan infus intravena, meningkatkan imunitas tubuh, dan mencegah infeksi lanjutan.

Wabah Ebola harus diwaspadai di seluruh negara dunia termasuk di Indonesia. Karena hewan sebagai host alami untuk penyakit ini, yaitu kelelawar buah, tersebar luas di seluruh nusantara. Di Indonesia kelelawar buah/codot makan berbagai buah, seperti jambu, sawo, rambutan, matoa. Buah sisanya yang dipetik dan dimakan manusia dikhawatirkan akan menularkan virus ini apabila codot telah menjadi host virus ebola. Hewan reservoir lainnya diantaranya hewan primata jenis kera, orang utan, simpanse juga banyak ditemukan di hutan Indonesia . Kita juga harus waspada karena kini semakin banyak orang dari benua Afrika datang dan bermukim di Indonesia. Bisa jadi ada di antara mereka yang berasal dari negara tertular penyakit demam ebola.

Untuk mencegah penyebaran virus Ebola, hal yang harus kita lakukan diantaranya adalah dengan menghindari kontak dengan hewan penular seperti kelelawar, hewan jenis primata, maupun hewan liar lainnya, tidak memakan dagingnya yang tidak dimasak secara sempurna, dan jika kontak dengan hewan tersebut baik yang hidup maupun yang sudah mati harus menggunakan pelindung, seperti sarung tangan, masker, dan pakaian pelindung. Hindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi virus Ebola, terutama yang berhubungan dengan cairan tubuh. Atau jika harus melakukan kontak dengan penderita, seperti petugas medis di Rumah Sakit maka harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan selalu mencuci tangan setelah menangani pasien. Termasuk ketika menangani jenazah yang meninggal karena ebola maka juga harus menggunakan APD, serta tata cara pemulasaraan jenazah harus dilakukan secara benar sesuai standar tatalaksana penyakit menular. Harus selalu waspada jika melakukan perjalanan ke daerah risiko tinggi Ebola (Afrika) dan segera ke pelayanan kesehatan apabila menderita gangguan kesehatan. Dan yang tak kalah penting adalah selalu menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari. (Ariyanto, SKM)


Penanganan penderita ebola di tenda isolasi darurat di Guinea, Afrika.

 


Perdarahan Internal dan Eksternal, salah satu tanda gejala penderita Ebola

Sumber :

1.  Kandun, I Nyoman (Ed). 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

2.  www.who.int/csr

3.  www.tempo.co

4.  www.diskes.jabarprov.go.id

 














Kategori Berita

Arsip File