JELANG MUSIM HAJI, WASPADAI ANCAMAN MERS-CoV

Oleh: Imam Abrori, SKM *)
Pemerintah Indonesia tidak mau mengganggap enteng hadapi penyebaran Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), hal ini dibuktikan dengan adanya rapat koordinasi antara Menteri Agama, Menteri Kesehatan, Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan untuk membahas penyebaran Novel Coronavirus.

Sampai hari Senin tanggal 5 Mei 2014, Departemen Kesehatan Arab Saudi sejauh ini telah melaporkan sekitar 378 kasus dan 115 kematian terkait dengan MERS CoV. Tetapi setidaknya 14 negara lain telah melaporkan terdapat warga negaranya yang terinfeksi, diantaranya Mesir, Yordania, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Tunisia, Malaysia, Perancis, Yunani, Italia, Inggris, Filipina, dan yang terbaru Amerika Serikat.

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), MERS-CoV merupakan situasi serius dan perlu perhatian besar, namun belum terjadi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKM-MD) atau yang sering disebut Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

MERS-CoV merupakan penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus Corona yang menyerang saluran pernapasan mulai dari yg ringan s/d berat. Gejalanya adalah demam, batuk dan sesak nafas, bersifat akut, biasanya pasien memiliki penyakit ko-morbid. Hampir dari separuh penderita meninggal dunia.

Adapun sumber MERS-CoV belakangan ini dikonfirmasi dari Unta, hasil riset sejumlah ilmuwan menunjukkan tiga perempat unta di Arab Saudi positip mengidap MERS-CoV, bahkan CDC menemukan virus itu di tubuh kelelawar di Arab Saudi. Hingga saat ini belum ada vaksin dan obat-obatan untuk menangani MERS, namun hanya bisa mengobati gejala MERS seperti: demam, batuk, dan kesulitan bernafas.

Virus ini ditemukan pertama kali di Arab Saudi dan sudah menyerang warga Prancis, Jerman, Italia, Tunisia, Inggris, Amerika Serikat, Malaysia, dan lain-lain. Mereka yang terinfeksi rata-rata baru melakukan perjalanan dari Timur Tengah. Rata-rata korban MERS-CoV berusia 51 tahun, walau ada juga yang berusia 2 tahun bahkan 94 tahun.

Dari seluruh negara yang mengirimkan jemaahnya, Indonesia tercatat sebagai negara pengirim calon jemaah haji dan umroh terbesar di dunia. Berdasarkan catatan dari tahun 2001 sampai 2013, calon pendaftar jamaah haji Indonesia mencapai 4.998.499 orang.  Sedangkan rata-rata jemaah umroh tiap bulannya berkisar 150 ribu jemaah dan cenderung meningkat menjelang Bulan Ramadhan. Tingginya mobilitas baik jemaah haji maupun umroh yang dikirim ke Arab Saudi menjadi ancaman atau faktor risiko penyebaran MERS-CoV.

Mengingat semakin meningkatnya kasus MERS-CoV dan tingginya mobilitas jemaah haji dan umroh Indonesia yang dikirim ke Arab Saudi, maka pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama melakukan rapat koordinasi dengan Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umroh membahas mengenai langkah-langkah penanggulangan MERS-CoV sebagai langkah antisipasi sebagai berikut:

1. Disarankan untuk tidak memberangkatkan umrah dengan kriteria sebagai berikut:
   
a. Berusia lebih dari 65 tahun
    b. Jemaah dengan penyakit kronis (misal: penyakit Jantung, Ginjal, Saluran Pernafasan, Diabetes)
    c. Jemaah dengan defesiensi kekebalan tubuh
    d. Wanita hamil dan anak-anak dibawah umur 12 tahun

2. Pengisian kuota nasional untuk haji khusus tidak ada program percepatan pemberangkatan untuk jemaah usia lanjut

3. Kepada para calon jemaah agar:
   a. Menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
   b. Istirahat yang cukup
   c. Jangan merokok
   d. Rajin mencuci tangan dengan sabun
   e. Senantiasa menggunakan masker
   f. Bila batuk agar tutup mulut dengan tisu atau lengan
  g. Kalau ada infeksi saluran pernafasan agar segera berobat ke fasilitas kesehatan
  h. Tidak mengunjungi peternakan dan tempat pemotongan hewan
  i. Menghindari kontak langsung dengan fasilitas kesehatan yang sudah terkena kasus MERS-CoV
  j. Hindari minum susu mentah dan daging unta yang tidak diolah secara matang, makanan yang terkontaminasi sekresi hewan (himbauan dari WHO)

4. Kementerian Kesehatan telah memasang Thermal scanner di berbagai bandara embarkasi dan debarkasi serta pelabuhan laut bagi mereka yang datang dari Timur Tengah.

5. Asosiasi PPIU dan PIHK agar meningkatkan sosialisasi/penyebaran informasi mengenai MERS-CoV kepada para anggotanya agar meningkatkan kewaspadaan, namun tidak menimbulkan kepanikan bagi para calon jemaah umrah dan haji.



*) Penulis adalah Staf Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang.

 














Kategori Berita

Arsip File