Deteksi DBD secara cepat agar tidak terlambat

Sampai saat ini, DBD (Demam Berdarah Dengue) merupakan salah satu penyakit yang meresahkan masyarakat. DBD di Indonesia dari tahun ke tahun kasusnya masih tinggi dan selalu memakan korban jiwa. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa pada tahun 2012 penderita DBD di Indonesia sebanyak 90.245 orang dengan 816 kematian (CFR 0,90%). Sebagian besar penderita DBD adalah anak-anak, namun tak sedikit pula menyerang orang dewasa. Jatuhnya korban DBD sebenarnya dapat dihindari apabila masyarakat mengetahui tentang deteksi dini penyakit DBD sehingga penderita dapat ditangani dengan cepat dan tepat.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Pada umumnya, gejala awal DBD hampir sama dengan penyakit demam lainnya, antara lain yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah. Karena hampir sama dengan penyakit lain, maka masyarakat sering kesulitan mengenali gejala awal DBD. Gejala khas DBD seperti perdarahan pada kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Padahal bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka dapat berakibat fatal pada penderita.


Nyamuk Aedes Aegypti, nyamuk penular virus dengue penyebab DBD

Walaupun mirip dengan penyakit lain, seperti tifus atau flu, ada beberapa ciri khas DBD yang dapat dikenali, antara lain yaitu demam timbul secara mendadak, tanpa mriyang-mriyang (dalam istilah jawa), panas tinggi dapat mencapai 39-40 derajat Celcius dan dapat disertai menggigil. Demam ini hanya berlangsung sekitar lima hari. Pada saat demamnya berakhir, sering kali suhu turun drastis, dan disertai dengan berkeringat banyak, dan penderita tampak lesu. Gejala khas demam berdarah dikenal dengan kurva yang menyerupai  pelana kuda, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh. Harus diwaspadai jika panas tidak disertai batuk, pilek dan sakit tenggorokan sementara di lingkungan rumah tidak ada yang menderita flu. Terlebih lagi bila dalam beberapa waktu terakhir di sekitar rumah ada yang mengalami penyakit DBD.

Selain itu, gejala khas lainnya yaitu nyeri pada bola mata bagian belakang, dan timbulnya ruam pada kulit. Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada sakit hari ke-4 berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak. Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD selalu disertai dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini dapat muncul setelah dilakukan tes rumple leed/ tourniqet. Tes tersebut dilakukan dengan cara melakukan pembendungan antara tensi (tekanan darah) diastolik dan sistolik, kemudian dibiarkan selama 5-10 menit lalu dilihat apakah timbul bintik merah atau tidak. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang masif yang dapat berakhir pada kematian.

Tanda bahaya yang harus diketahui pada penyakit DBD adalah tanda perdarahan kulit (bintik merah), hidung, gusi atau berak darah warna kehitaman dan berbau. Tanda bahaya lainnya adalah bila panas yang berangsur dingin, tetapi penderita tampak lesu dan pada perabaan dirasakan ujung-ujung tangan atau kaki dingin. Gejala yang dingin ini sering dianggap penderita telah sembuh, padahal merupakan tanda bahaya. Tanda bahaya lain yang menyertai adalah penderita tampak sangat gelisah, kesadarannya menurun, kejang dan napas sesak. Pada keadaan tersebut penderita harus segera dibawa ke dokter, bila terlambat akan menimbulkan komplikasi yang berbahaya seperti syok, perdarahan kepala, perdarahan hebat di seluruh tubuh atau gangguan fungsi otot jantung. Dalam keadaan ini penderita biasanya sulit untuk diselamatkan.

Pada DBD, panas hari ke I - II biasanya tidak bisa terdeteksi gejala demam berdarah dan tidak ada penanganan secara khusus. Hal inilah yang sering kali membuat terlena sehingga terjadi kelengahan pada fase berikutnya. Manifestasi berbahaya biasanya justru timbul pada panas hari ke III - V. Keterlambatan penanganan yang terjadi justru saat periode tersebut. Bila terjadi maka jangan ditunda saat itu juga harus segera ke dokter atau ke rumah sakit terdekat. Jadi monitor tanda bahaya itu justru harus dilakukan saat panas hari ke III - V. Sering dijumpai penderita DBD didiagnosis sebagai penyakit tifus. Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terhadap penyakit demam tiphoid (tifus). Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada penyakit demam tiphoid pada minggu awal panas biasanya malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut. Bila hasil pemeriksaan widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus. Sebaiknya, pemeriksaan Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua panas.


Ruam pada kulit, salah satu gejala khas pada penderita DBD

Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis DBD adalah pemeriksaan darah atau sering diistilahkan pemeriksaan darah lengkap. Gambaran hasil laboratorium yang khas adalah terjadi peningkatan kadar hemoglobin (Hb) dan peningkatan hematokrit (HCT) disertai penurunan trombosit kurang dari 150.000 Perubahan tersebut biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-5 panas. Pemeriksaan darah pada hari pertama atau kedua panas tidak bermanfaat dan malah menyesatkan karena hasilnya masih dalam normal, tetapi belum menyingkirkan penyakit DBD. Dalam perjalanannya trombosit akan terus menurun pada hari ke-3, ke-4, dan hari ke-5, sementara pada hari ke-6 dan selanjutnya akan meningkat kemudian kembali ke normal. Biasanya setelah hari ke-6 jumlah trombosit di atas 50.000. Namun bila daya tahan tubuh penderita lemah, terdapat komplikasi lain, plus kekurangan cairan, maka akan lain ceritanya dan tidak sesuai dengan alur diatas, yang sebenarnya DBD dapat sembuh sendiri namun berubah menjadi ancaman yang mematikan.

Prinsip pengobatan DBD secaara medis sebenarnya tidak ada pengobatan secara khusus. Penyakit ini adalah self limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh sendiri. Prinsip pengobatan secara umum adalah pemberian cairan berupa elektrolit (khususnya natrium) dan glukosa. Pemberian minum yang mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah atau minuman lain yang manis, dapat membantu mengatasi kekurangan cairan pada penderita DBD. Sampai pada saat ini belum ada penelitian secara klinis yang membuktikan bahwa pemberian jambu biji kepada penderita DBD dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah.

Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan metode yang sering disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dan lain-lain sesuai dengan kondisi setempat.  (Ariyanto, SKM)

 

Sumber:

1. www.indonesiaindonesia.com

2. www.health.kompas.com

3. www.tempo.co

4. www.growupclinic.com

 














Kategori Berita

Arsip File