Waspadai penyebaran virus West Nile di Indonesia

Saat ini kita harus mewaspadai kemunculan jenis virus yang sebelumnya belum pernah ditemukan di Indonesia, yaitu virus West Nile (West Nile Virus). Pada awal Januari 2014, berdasarkan penelitian oleh tim peneliti dari Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga Surabaya, ditemukan 12 orang positif terjangkit virus West Nile dari 35 sampel yang diteliti pada pasien yang terindikasi di daerah Surabaya. Sebelumnya, pada bulan Oktober 2013 juga pernah dilaporkan bahwa  tim peneliti dari ITD UNAIR telah menemukan 19 sampel positif virus West Nile dari 59 sampel yang diteliti. Keberadaan virus West Nile mungkin sudah pernah ada sebelumnya di Indonesia, tetapi karena dahulu penyakit ini sulit  didiagnosis maka dimungkinkan tidak terdeteksi pada pasien.

Walaupun virus West Nile di Indonesia belum menimbulkan korban jiwa, namun penyebaran virus ini harus diwaspadai, mengingat virus ini sudah menimbulkan wabah di beberapa negara di dunia. Wabah virus west nile pernah terjadi di negara Aljazair (1994), Rumania (1996 - 1997), Republik Ceko (1997), Kongo (1998), Rusia (1999), Amerika Serikat (1999 - 2012), Kanada (1999 - 2007), Israel (2000) dan Yunani (2010). Kasus wabah virus West Nile di Amerika Serikat terburuk terjadi tahun 2012, dimana mengakibatkan lebih dari 5.000 kasus dengan 286 kematian. Virus West Nile pertama kali diidentifikasi pada tahun 1937 di provinsi West Nile (daerah delta sungai Nil bagian barat) di Uganda, Afrika Timur. Oleh sebab itulah virus ini dinamakan virus West Nile. Menurut sejarah, virus West Nile diperkirakan pertama kali ditemukan pada tahun 323 SM di daerah Mesopotamia (daerah Irak sekarang) yaitu pada masa kekaisaran Alexander Agung dan bahkan diduga menjadi penyebab kematian sang kaisar dari Macedonia Yunani yang tersohor di masa silam itu.

Nyamuk culex, vektor utama penyebar virus West Nile

Virus West Nile adalah jenis virus yang dapat menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. Virus ini termasuk dalam genus flavivirus dalam family flaviridae. Flavivirus ini ditemukan di daerah beriklim sedang dan tropis di dunia. Pada hakikatnya, semua jenis nyamuk dapat menjadi perantara, tetapi yang paling utama adalah nyamuk jenis culex. Selain nyamuk, burung juga berfungsi sebagai tempat pengidapan alami (natural host), dan burung inilah yang akan menjadi instrumen utama dalam penyebaran virus ini. Masuknya virus West Nile ke indonesia diperkirakan bermula dari migrasi burung yang berasal dari negara terinfeksi. Burung tertular setelah digigit nyamuk culex, dan nyamuk culex menularkannya pada manusia. Selain menginfeksi manusia, virus ini juga menginfeksi binatang seperti kuda dan sapi. Virus West Nile tidak menyebar melalui kontak biasa seperti menyentuh atau mencium orang yang terjangkit virus, tetapi dalam beberapa kasus yang diteliti di Amerika Serikat (walaupun insidensi kasusnya masih relatif kecil) telah menyebar melalui transfusi darah, transplantasi organ, penularan selama kehamilan dari ibu ke bayi, dan pemberian ASI dari ibu ke bayinya.

Masa inkubasi virus West Nile pada manusia berlangsung antara 3-14 hari. Perjalanan penyakit virus West Nile pada umumnya berlangsung ringan dengan tanda-tanda demam, menggigil, nyeri kepala, nyeri punggung, nyeri otot secara menyeluruh, dan sulit tidur. Di samping itu, dapat pula ditemukan gejala gangguan gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, dan nyeri lambung. Kemudian suhu badan penderita dapat mencapai 40C atau lebih. Pada umumnya, sebagian besar penderita akan pulih sepenuhnya. Akan tetapi pada beberapa kasus, terutama pada orang-orang yang telah berusia lanjut, justru akan berkembang menjadi ensefalitis ataupun meningitis (infeksi pada lapisan otak dan sumsum tulang belakang) yang sangat berisiko menyebabkan kematian. Oleh karena itu, diagnosis yang akurat akan membantu penderita agar tidak mengalami tahap yang lebih parah dari infeksi virus West Nile. Upaya penegakan diagnosis ini sangat penting bagi pasien, keluarga, dokter, praktisi, klinisi, akademisi, dan bagi para pemegang kebijakan.

Siklus transmisi virus West Nile dari nyamuk burung nyamuk manusia/ kuda

Untuk mendiagnosa virus West Nile biasanya menggunakan pengukuran antibodi IgM dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), isolasi virus dari serum pasien, atau yang lebih praktis dengan menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Belum ada obat khusus dan vaksin yang dapat menangkal virus West Nile. Penanganan yang  dapat dilakukan terhadap pasien yang terinfeksi yaitu dengan perawatan intensif di rumah sakit, pemberian cairan infus intravena, pemberian bantuan pernafasan, meningkatkan imunitas tubuh, dan mencegah infeksi lanjutan.

Cara pencegahan virus West Nile yang paling sederhana dan paling efektif adalah menghindari gigitan nyamuk jenis apapun, mengantisipasi tempat perkembangbiakan nyamuk dan memberantas nyamuk di dalam rumah maupun di lingkungan sekitar. Hal yang perlu dilakukan antara lain secara rutin menguras air di bak mandi, kolam renang, dan bak penampungan air lainnya. Hendaknya secara teratur mengganti air di tempat minum burung, pot bunga, mengosongkan tempat yang mungkin secara tidak sengaja menyimpan air seperti kaleng bekas, ban bekas, mainan anak-anak, pelepah pisang, dan lain-lain. Ketika keluar rumah dianjurkan untuk memakai sepatu, kaus kaki, celana panjang dan kemeja lengan panjang untuk menghindari potensi gigitan nyamuk. Selain itu dianjurkan pula menggunakan penolak nyamuk (repellent) yang mengandung bahan aktif 30-50% DEET (N,N-diethylmetatoluamide) terutama saat fajar dan sore hari dimana pada saat-saat tersebut merupakan waktu aktif nyamuk untuk berkeliaran dan mencari makan.

(Ariyanto, SKM* dan dr. Anas Ma'ruf, MKM)  

Sumber:

1. www.who.int

2. www.itd.unair.ac.id

3. www.wikipedia.org

4. www.okezone.com

5. www.news-medical.net

6. sumber gambar: google search images, keyword: virus west nile

 














Kategori Berita

Arsip File