Mengenal Diabetes Mellitus dan Penatalaksanaannya

Penyakit Tidak Menular (PTM) mengakibatkan 63% atau 57 juta kematian di dunia setiap tahunnya. Sementara World Economic Forum menyatakan bahwa total pengeluaran dunia untuk PTM adalah lebih dari US $ 30 triliun untuk 20 tahun kedepan. Data terkini di Indonesia, 60 % kematian pada kelompok usia dewasa disebabkan PTM seperti penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes mellitus dan penyakit saluran pernafasan, demikian disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., MPH, pada acara Seminar Nasional Pangan dan Gizi (SEMNAS PAGI) 2013 di Jakarta.

Salah satu PTM yang merupakan ancaman serius bagi pembangunan kesehatan adalah Diabetes mellitus karena menyebabkan kebutaan, gagal ginjal, kaki diabetes (gangren), komplikasi ke penyakit jantung dan stroke. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2003, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang berusia >20 tahun 133 juta jiwa, dengan prevalensi 14,7 % pada daerah urban dan 7.2 % pada daerah rural maka diperkirakan pada tahun 2003 terdapat 8,2 juta jiwa penyandang Diabetes mellitus (DM)  daerah urban dan 5,5 juta jiwa di daerah rural.

Selanjutnya berdasarkan pola pertambahan penduduk, diperkirakan pada tahun 2030 akan ada 194 juta jiwa penduduk berusia >20 tahun dan dengan asumsi prevalensi yang sama tadi, diperkirakan DM pada daerah urban sebanyak 12 juta jiwa dan pada daerah rural 8,1 juta jiwa.

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa Prevalensi DM didaerah Urban >15 tahun 5,7 %. Prevalensi terkecil di Papua 1,7 % dan yang terbesar di Maluku Utara dan Kalimantan Barat 11,1 %. Sedangkan Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu berkisar 4,0 % di Jambi dan 21,5 % di Papua Barat.

Data tersebut diatas menunjukkan bahwa Jumlah penderita DM cukup banyak di Indonesia dan menjadi beban tersendiri di era pembiayaan kesehatan semesta sekarang ini. Mengingat DM memberikan dampak terhadap kualitas sumber Daya Manusia terkait dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas serta disabilitas, peningkatan biaya kesehatan/ beban ekonomi yang cukup besar, maka semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah sudah seharusnya ikut serta dalam usaha penanggulangan DM, khususnya dalam upaya promotif dan preventif.

Dalam kesempatan wawancara yang dikutip dari situs infopenyakit.org, Prof.dr.Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, DTM&H, DTCE , Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa DM di Indonesia menurut WHO berada pada peringkat ke-7 dunia, setelah India, China dan USA, Brazil, Rusia dan Mexico. Sekitar 1,3 juta orang meninggal dunia akibat Diabetes dan 4% nya meninggal sebelum usia 70 tahun. Pada tahun 2030 diperkirakan DM menempati urutan ke-7 penyebab kematian dunia. Dan di Indonesia diperkirakan penderita DM/ diabetesi sebanyak 21,3 juta jiwa. Tanpa ada upaya dan pencegahan yang efektif, maka penderita DM akan terus meningkat.

Definisi

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi Insulin, kerja Insulin atau keadaan keduanya (ADA, American Diabetes Association, 2010)

Klasifikasi DM antara lain ada 4 (empat), yaitu :

- Tipe I  : Adanya kerusakan sel beta pankreas, umumnya mengarah pada defisiensi insulin absolut olehkarena proses autoimun dan idiopatik.

- Tipe II : Bervariasi, mulai yang didominasi resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin.

- Tipe lain : Defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, proses infeksi, sebab imunologi yang jarang, syndroma genetik yang berkaitan dengan DM.

- DM Gestasional : Penderita DM pada saat kehamilan 

Di Indonesia banyak ditemukan penderita DM tipe II dan jumlahnya bertambah banyak terkait dengan gaya hidup dan perbaikan taraf hidup masyarakat Indonesia saat ini.

Diagnosis Diabetes Mellitus

Diagnosa DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar gula (glukosa) dalam darah. Diagnosa tidak dapat ditegakkan jika hanya ditemukan glukosa dalam urin.

Pemeriksaan gula darah yang dianjurkan dengan menggunakan bahan darah plasma vena, sedangkan untuk tujuan pemantauan dapat dilakukan dengan menggunakan alat glukotest/ glukometer.

Keluhan umum penderita DM antara lain :

Poliuria (sering kencing, terutama pada malam hari), polidipsia (gampang haus), polifagia (mudah lapar) dan adanya penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya.

Keluhan lain/ yang menyertai, misalnya : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi pada Pria, serta pruritus vulvae atau gatal pada kemaluan wanita.

Diagnosa DM ditegakkan melalui 3 (tiga) cara, yaitu :

1.Adanya keluhan umum penderita + hasil pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) 200mg/dl

2.Hasil pemeriksaan gula darah puasa (GDP) 126mg/dl, (puasa minimal 8jam)

3.Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban gula 75gram yang dilarutkan dalam air, 2 jam setelah pemberian air gula didapat hasil pemeriksaan gula darah 200mg/dl.

Ada 1 (satu) pemeriksaan yang telah direkomendasikan oleh ADA 2011, yaitu pemeriksaan HbA1C, dimana hasil pemeriksaan yang didapatkan merupakan rerata gula darah 3 (tiga) bulan terakhir, Positif DM jika hasil pemeriksaan HbA1C >6,5 %.

Screening Mass (penapisan massal)

Kegiatan penapisan massal sebenarnya tidak dianjurkan  karena biaya yang mahal dan seringkali tidak ada follow up terhadap orang-orang yang hasil pemeriksaan gula darahnya tinggi. Penapisan sebaiknya dilakukan pada saat pemeriksaan laborat lainnya dilakukan atau pada saat general check up.

Patokan hasil penapisan pemeriksaan gula darah (Konsensus PERKENI 2011)

 

 

Bukan DM

Belum Pasti DM

DM

Kadar Gula Darah Sewaktu (mg/dl)

Plasma vena

<100

100 199

200

Darah Kapiler

<90

90 199

200

Kadar Gula Darah Puasa (mg/dl)

Plasma vena

<100

100 125

126

Darah Kapiler

<90

90 99

100

*pemeriksaan ini dapat dilakukan per tahun pada orang dengan resiko tinggi

Faktor Risiko DM

Faktor risiko adalah faktor yang ada pada diri individu yang belum terkena DM tetapi berpotensi untuk terkena DM jika faktor tersebut masih ada atau melekat pada individu tersebut, faktor risiko antara lain :

a.Faktor Resiko yang tidak dapat di modifikasi/ dirubah, antara lain :

Ras dan keturunan, termasuk riwayat keluarga dengan DM

Umur

Riwayat Kelahiran dengan Berat badan lahir bayi >4000gram atau dengan DM selama kehamilan

Riwayak kelahiran dengan berat badan lahir rendah (<2,5kg)

b.Faktor Resiko dapat di modifikasi/ dirubah, antara lain :

Berat badan lebih (IMT,indeks massa tubuh >23 kg/m2)

Kurangnya aktifitas fisik


Hipertensi (>140/90 mmHg)

Dislipidemi (HDL <35 mg/dl dan Trigliserid >250 mg/dl)


Pola makan tinggi kalori dan gula serta rendah serat
 

Penatalaksanaan DM

Dikenal Pilar Penatalaksanaan DM, antara lain

1.Edukasi

2.Terapi Nutrisi Medis

3.Latihan Jasmani

4.Intervensi pengobatan

1.Edukasi

Edukasi berarti memberikan pengetahuan yang cukup dengan tujuan promosi hidup sehat dan perubahan perilaku hidup sehat, hal ini perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan bagian dari pengelolaan DM secara menyeluruh.

Materi edukasi yang direkomendasikan oleh PERKENI 2011 adalah :

a. Tentang perjalanan penyakit DM

b. Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara berkelanjutan

c. Penyulit DM dan risikonya

d. Intervensi farmakoligis dan non farmakologis serta target terapinya

e. Cara pemantauan gula darah

f.  Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti sakit dan saat hipoglikemia

g. Menjaga latihan jasmani dengan teratur

h. Pentingnya perawatan kaki

i.  Interaksi antara asupan makanan, aktifitas fisik dan obat hipoglikemik oral atau insulin serta obat-obat yang lain.

2.Terapi Nutrisi Medik

Terapi ini memerlukan kerjasama dokter dan ahli gizi serta petugas kesehatan lainnya jika diperlukan dan bagi penderita ditekankan tentang pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan disesuaikan dengan komposisi makanan dan kebutuhan kalori nya terutama bagi mereka yang menggunakan obat  oral dan insulin.

3.Latihan Jasmani

Kegiatan jasmani yang dianjurkan adalah 3-4 kli dalam seminggu selama kurang lebih 30 menit. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran tubuh juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas insulin sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah.

Latihan jasmani yang direkomendasikan adalah yang bersifat aerobik, seperti jalan kaki, sepeda santai, jogging dan berenang. Latihan ini disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani individu.

Secara umum, hindari kegiatan dan kebiasaan yang bermalas-malasan dan kurang gerak.

4.Terapi Farmakologis

Pilar ini diberikan bersama pengaturan makan dan latihan jasmani, terdiri dari pemberian obat yang diminum (oral) maupun obat yang disuntikkan (injeksi).

Di Indonesia masyarakat sudah mengenal obat-obat golongan sulfonil urea seperti glibenclamid, glimepiride dan glicazide, glikuidon, glipizid serta golongan biguanid seperti Metformin, untuk injeksi dikenal Insulin.

Konsultasikan dahulu dengan dokter keluarga anda sebelum menentukan penggunaan obat oral maupun injeksi, tiap individu berbeda dan tujuan terapi mempertimbangkan kondisi invidu, keadaan sosial ekonomi dan memperhatikan faktor resiko yang menyertai serta kemungkinan komplikasi yang mungkin muncul.

Empat Pilar penatalaksanaan DM ini disesuaikan dengan kondisi individu, setiap orang berbeda pelaksanaannya dan harus dalam pengawasan tenaga medis berkompetensi, semua penatalaksanaan bertujuan memperbaiki morbiditas penyakit, mencegah mortalitas serta mencegah komplikasi seperti makroangiopati (gangguan pembuluh darah jantung, gangguan pembuluh darah tepi, gangguan pembuluh darah otak), mikroangiopati (retinopati diabetik berujung kebutaan, nefropati diabetik/ gangguan ginjal) serta neuropati (komplikasi paling sering berupa ganggun saraf tepi seperti kesemutan, nyeri, hilangnya sensasi rasa/ raba bagian bawah).

Saat ini pelayanan DM sudah dapat dilakukan di Puskesmas dan tempat layanan kesehatan primer atau Tingkat I lainnya, pemberian obat disesuaikan dengan kemampuan, para penderita DM rujuk balik dari RS yang merupakan peserta BPJS dapat diberikan obat oral maupun suntikan selama 30 hari atau sesuai rekomendasi dokter Rumah Sakit.

Kegiatan yang digalakkan Kemenkes RI dalam pengendalian DM yaitu Monitoring dan Deteksi Dini faktor resiko DM di POSBINDU (Pos Pembinaan Terpadu PTM dan Implementasi perilaku CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Aktifitas Fisik, Diet Sehat dan seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stres).

Himbauan Prof.dr. Tjandra Yoga Aditama selaku Dirjen PP dan PL adalah kegiatan POSBINDU PTM dapat diimplementasikan di setiap tatanan/ kelompok masyarakat dan mari kita menuju masa muda sehat, hari tua nikmat tanpa PTM. KKP Semarang selaku Unit Pelaksana Teknis Pusat di daerah siap mendukung himbauan Prof.Tjandra dan melakukan kegiatan tersebut secara kontinyu.

 

Oleh: dr. Lucky Taufika Yuhedi* dan dr. Anas Ma'ruf, MKM** 

 














Kategori Berita

Arsip File