Pengambilan spesimen untuk penegakan diagnosa terhadap Covid-19

Jika ditemukan adanya orang yang mengalami gejala demam dan atau batuk dengan pneumonia ada riwayat perjalanan dari negara terjangkit atau orang dengan gejala demam/riwayat demam dan atau batuk tidak disertai pneumonia namun ada riwayat perjalanan sebelum 14 terahir dari wuhan/provinsi Hubai/ Cina atau riwayat paparan dalam 14 hari terahir (kontak erat dengan kasus konfirm/ kontak dengan orang dari wuhan/propinsi hubei atau bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang merawat kasus konfirmasi) harus dilakukan tindakan yaitu dirujuk RS untuk dilakukan isolasi, penanganan medis dan diambil spesimen untuk penegakan diagnosa. Orang tersebut masuk dalam ketegori orang dalam pengawasan.

Pengambilan spesimen dilakukan di RS rujukan yang selanjutnya RS berkoordinasi dengan Dinkes setempat untuk pengiriman sampel dengan menyertakan formulir penyelidikan epidemiologi dan formulir pengiriman spesimen dan surat pengantar dinas kesehatan setempat untuk dikirim ke Laboratorium BaLitbangkes atau laboratorium rujukan yang telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan RI. Laboratorium BaLitbangkes atau laboratorium rujukan yang ditunjuk menggunakan metode RT-PCR (Real Time - Polymerase Chain Reaction) untuk diagnosa kasus konfirmasi Covid-19.

Sampai dengan tanggal 4 Maret 2020 (sumber data www.infeksiemerging.kemkes.go.id) Laboratorium Litbangkes telah melakukan pemeriksaan sejumlah 372 spesimen, dengan hasil pemeriksaan 2 positif Covid-19, 356 negatif Covid-19 dan 14 spesimen masih dalam proses pemeriksaan.

Jenis spesimen yang diambil untuk pemeriksaan laboratorium pasien adalah

a. Usap Nasopharing atau Orofaring ,

b. sputum,

c. Bronchoalveolar Lavage,

d. Tracheal aspirate, nasopharyngeal aspirate atau nasal wash ,

e. Jaringan biopsi atau autopsi termasuk dari paru-paru.

f. Serum (2 sampel yaitu akut dan konvalesen) untuk serologi

Sedangkan spesimen yang wajib diambil adalah Usap nasopharing atau orofaring, sputum dan serum. Spesimen dari pasien yang diduga novel coronavirus, harus disimpan dan dikirim pada suhu yang sesuai. Spesimen harus tiba di laboratorium segera setelah pengambilan. Penanganan spesimen dengan tepat saat pengiriman adalah hal yang sangat penting. Sangat disarankan agar pada saat pengiriman spesimen tersebut ditempatkan di dalam cool box dengan kondisi suhu 2-80C atau bila diperkirakan lama pengiriman lebih dari tiga hari spesimen dikirim dengan menggunakan es kering (dry ice).

Pengiriman ke laboratorium penerima harus memberikan informasi pengiriman spesimen melalui PHEOC. Untuk wilayah di luar jakarta pengiriman spesimen dapat dilakukan menggunakan jasa kurir door to door. Pada kondisi yang memerlukan pengiriman port to port, dapat melibatkan petugas KKP setempat. Untuk selanjutnya spesimen dikirimkan ke Balitbangkes oleh petugas Ditjen P2P berkoordinasi dengan PHEOC Ditjen P2P.

Hasil tes pemeriksaan negatif pada spesimen tunggal, terutama jika spesimen berasal dari saluran pernapasan atas, belum tentu mengindikasikan ketiadaan infeksi. Oleh karena itu harus dilakukan pengulangan pengambilan dan pengujian spesimen. Spesimen saluran pernapasan bagian bawah (lower respiratory tract) sangat direkomendasikan pada pasien dengan gejala klinis yang parah atau progresif. Adanya patogen lain yang positif tidak menutup kemungkinan adanya infeksi COVID-19, karena sejauh ini peran koinfeksi belum diketahui.

Pengambilan spesimen dilakukan sebanyak dua kali berturut-turut (pada hari berikutnya atau kondisi terjadi perburukan).Apabila hasil pemeriksaan terdapat positif etiologi virus yang lain tetapi negatif COVID-19 dan memiliki hubungan epidemiologi yang kuat dengan kontak erat atau riwayat perjalanan dari wilayah terjangkit maka harus dilakukan pemeriksaan ulang. Karena kemungkinan terjadinya infeksi sekunder belum diketahui.

Hasil pemeriksaan laboratorium dikirimkan oleh laboratorium pemeriksa ke Dirjen P2P cq. PHEOC untuk kemudian diteruskan ke Emergency Operation Center (EOC) Pusat Krisis Kesehatan. PHEOC mengirimkan hasil pemeriksaan ke Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit yang merawat kasus. Pelaporan satu pintu ini diharapkan dapat lebih memudahkan berbagai pihak terkait agar dapat berkoordinasi lebih lanjut. Jika hasil pemeriksaan laboratorium positif, IHR Nasional Fokal Poin memberikan notifikasi ke WHO dalam 1x24 jam.

Pasien konfirmasi COVID-19 dengan perbaikan klinis dapat keluar dari RS apabila hasil pemeriksaan Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dua kali berturut-turut dalam jangka minimal 2-4 hari menunjukkan hasil negatif (untuk spesimen saluran pernafasan atas dan saluran pernafasan bawah).

Penulis : Nur Idayanti, SKM















Kategori Berita

Arsip File