Deteksi, prevensi dan respon terhadap Covid-19 di pintu masuk negara Tanjung Emas Semarang

Corona Virus Disease 19 (Covid 19) telah ditetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD)/ Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) sejak tanggal 30 Januari 2020. Situasi global saai ini, berdasarkan data who tanggal 3 Maret 2020, Jumlah negara terkonfirmasi ada 72 negara (yang termasuk negara terjangkit yang sudah ada transmisi lokal sejumlah 31 negara), jumlah total kasus konfirmasi 90.870 , dengan jumlah kematian sebesar 3.112 (Case Fatality Rate 3,4 %).

Daftar 31 negara terjangkit yaitu negara yang telah melaporkan ke WHO (World Health Organization) sudah ada transmisi lokal (penularan lokal) adalah Cina, Singapura, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Vietnam, Thailand, Amerika Serikat, Jerman, Perancis, UK, Uni Emirat Australia, Iran, Italia, Spanyol, Kroasia, San Marino, Norwegia, Kanada, Belanda.

Pelabuhan Tanjung Emas Semarang merupakan salah satu pintu masuk negara di wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang, Jumlah kedatangan kapal dari luar negeri tahun 2019 sejumlah 383 kapal, rata-rata per bulan 31 kapal luar negeri. Upaya deteksi, prevensi dan Respon dalam rangka cegah tangkal Corona Virus telah dilakukan dan ditingkatkan pengawasannya.

Di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, setiap alat angkut yang datang dari luar negeri (termasuk negara terjangkit covid 19) dilakukan boarding di zona karantina untuk memastikan tidak ada penumpang yang mempunyai gejala demam, batuk, pilek, sesak maupun gangguan pernafasan laiinya sesuai dengan tanda dan gejala Covid-19. Zona Karantina adalah area atau tempat tertentu untuk dapat menyelenggarakan tindakan kekarantinaan kesehatan, dan ditetapkan sejauh 2 mil dari dermaga.

Tim boarding merupakan Tim Gerak Cepat (TGC) yang telah ditetapkan kepala KKP Semarang. KKP Semarang memiliki 8 TGC yang setiap tim nya terdiri dari medis/paramedis, surveilans/ epidemiolog (petugas pengendalian kekarantinaan dan surveilans epidemiologi), sanitarian/ entomology (petugas penngendalian risiko lingkungan) dan driver ambulans. Dan telah dilengkapi sarana prasarana dalam rangka deteksi, prevensi dan respon.

Saat ada kedatangan dari luar negeri, kapal belum diizinkan sandar ke dermaga, kapal wajib berada di zona karantina dan menaikan bendera kuning untuk permohonan izin karantina. TGC sebagai tim boarding menuju ke kapal dengan menggunakan kapal pandu dan merapat ke kapal yang akan diperiksa dengan menggunakan APD sesuai standar, pelampung, dan membawa peralatan deteksi seperti thermometer infra red dan peralatan lain yang menunjang pemeriksaan. 

Poin-poin yang diperiksa adalah sebagai berikut :

1. Memeriksa dokumen Maritime Declaratin Health (MDH) termasuk didalamnya ada poin apakah ada ABK/crew yang sakit atau riwayat sakit, termasuk voyage memo (riwayat perjalanan kapal)

2. Memeriksa dokumen kesehatan kapal seperti SSCEC, P3K apakah masih berlaku, dan Port Health Clearance (PHC) dari pelabuhan asal dan dokumen kesehatan crew/penumpang.

3. Memeriksa ABK/crew/penumpang kapal memastikan tidak ada yang mengalami gejala demam/riwayat demam, batuk, sesak nafas.

Untuk mendeteksi adanya demam menggunakan thermometer infared.

4. Memeriksa obat-obatan apakah ada antibiotik atau obat lain yang dipakai, apakah ada obat yang kadaluarsa

5. Memeriksa faktor risiko kesehatan di kapal seperti hygiene sanitasi kapal, keberadaan vektor penyakit, dan tikus di kapal.

6. Memberikan Health Alerd Card (HAC) sebagai kartu pemantauan kesehatan selama 14 hari sejak kedatangan.

7. Memberikan Komunikasi Risiko terhadap crew/penumpang dan crew.



Petugas KKP sedang melakukan deteksi suhu tubuh dengan thermometer infrared

Jika ditemukan adanya crew/ABK/penumpang yang mengalami gejala demam dan atau batuk dengan pneumonia datang dari negara terjangkit atau crew/ABK/penumpang dengan gejala demam/riwayat demam dan atau batuk tidak disertai pneumonia namun ada riwayat perjalanan sebelum 14 terahir dari wuhan/provinsi Hubai/ Cina atau riwayat paparan dalam 14 hari terahir (kontak erat dengan kasus konfirm/ kontak dengan orang dari wuhan/propinsi hubei atau bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang merawat kasus confirm) harus dilakukan tindakan yaitu dirujuk RS untuk dilakukan isolasi dan diambil spesimen untuk penegakan diagnosa. crew/ABK/penumpang masuk dalam ketegori orang dalam pengawasan. Terhadap penumpang lain dan atau kontak erat pasien yang sehat dilakukan karantina atau pemantauan kondisi kesehatan selama 14 hari. Terhadap alat angkut/crew/penumpang/ petugas dilakukan tindakan kekarantinaan berupa disinfeksi. Kapal tersebut diberikan restricted pratique (izin karantina terbatas). 


Petugas KKP sedang wawancara mendalam memastikan tidak ada riwayat sakit/demam, riwayat paparan selama 14 hari terahir

Jika dalam kapal tersebut tidak ada crew/penumpang yang sakit dengan gejala corona virus , dan tidak ditemukan factor risiko kesehatan di kapal maka terhadap kapal tersebut diberikan izin bebas karantina (free pratique). Namun tetap dilakukan pemantauan kesehatan selama 14 hari melalui HAC, jika selama 14 hari mengalami gejala demam, batuk, sesak maka segera dilakukan pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat.  

Penulis : Nur Idayanti, SKM















Kategori Berita

Arsip File