Mengenal penyakit Antraks

Beberapa waktu lalu di wilayah perairan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang terdapat crew kapal yang berasal dari Pelabuhan Fremantle, Australia yang ditemukan meninggal di kapal yang dicurigai sebagai suspek antraks. Walaupun penyebab yang sesungguhnya belum diketahui, namun kemungkinan keberadaan penyakit antraks ini harus selalu diwaspadai. Antraks adalah penyakit menular akut dan sangat mematikan yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas. Antraks bermakna "batubara" dalam bahasa Yunani, dan istilah ini digunakan karena kulit para korban akan berubah hitam. Antraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan. Penyakit ini bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia.

Penyakit Anthrax pada sapi yang disebabkan Bacillus anthracis bisa membentuk spora yang bisa bertahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah, tahan terhadap kondisi atau lingkungan yang panas, dan bahan kimia atau desinfektan. Oleh karena itu, hewan yang mati yang terjangkit antraks dilarang melakukan pembedahan pada bangkainya supaya tidak membuka peluang bagi organisme untuk membentuk spora. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia terutama daerah tropis.

Kasus antraks pertama kali di Indonesia dilaporkan di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara pada tahun 1832. Sedangkan wabah antraks di Jawa Tengah pertama kali dilaporkan tahun 1990 di Kabupaten Klaten, dua ekor sapi dilaporkan mati mendadak dengan diagnosis terinfeksi antraks. Kemudian Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks terjadi di Jawa Tengah di Kabupaten Semarang, Boyolali, dan Demak dengan total kasus 48 orang, tanpa kematian. Peternakan sapi perah di Kabupaten Semarang dan Boyolali menewaskan ratusan sapi. Disusul beberapa daerah yang dinyatakan KLB antraks yaitu di Kabupaten Purwakarta, Subang, Bekasi dan Karawang pada tahun 1996. Untuk Kabupaten Purwakarta kasus KLB antraks masih terjadi pada tahun 1997, 1999 dan 2000. Tahun 2001 Kabupaten Bogor terjadi KLB antraks dengan 22 penderita dengan 2 kematian. Tahun 2011 terjadi KLB antraks antara lain: Pada bulan Februari 2011, terjadi wabah antraks di Dukuh Karangmojo, desa Tangkisan, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali yaitu satu ekor sapi terinfeksi antraks. Masyarakat tidak mengetahui bahwa sapi sudah terinfeksi antraks tersebut disembelih kemudian daging dikonsumsi masyarakat. Akibat dari kejadian tersebut sebanyak enam warga terkena infeksi dan dilarikan ke rumah sakit. Pada bulan Mei  terjadi wabah antraks juga terjadi di Desa Geneng, Kabupaten Sragen. Enam orang yang kontak langsung dengan sapi sakit terkena infeksi. Pada bulan yang sama juga terdapat dugaan antraks kulit di Dukuh Rejosari, desa Brojol, kecamatan Miri, Kabupaten Sragen. Ditemukan 3 warga terkena infeksi. Pada akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017 Kemenkes mendapatkan 16 laporan kasus antraks kulit di Kulonprogo dan satu orang dinyatakan suspek antraks di Sleman, Yogyakarta.

Faktor virulensi dari penyakit ini disebabkan oleh B. anthracis yang berasal dari kapsul dan toksin. Kapsul dari B.anthracis terdiri dari poly D-glutamic acid yang tidak berbahaya (non toksik) bagi dirinya sendiri. Kapsul ini dihasilkan oleh plasmid pX02 dan berfungsi untuk melindungi sel dari fagositosis dan lisis. Toksin yang dihasilkan oleh B. Anthracis berasal dari plasmid pX01 yang memiliki AB model (activating dan binding). Toksin dari B.anthracis terdiri dari tiga jenis, yaitu protective antigen (PA) yang berasal dari kapsul poly D-glutamic acid, edema factor (EF), dan lethal factor (LF). Ketiga toksin ini tidak bersifat racun secara individual, namun dapat bersifat toksik bahkan letal jika ada dua atau lebih. Toksin PA dan LF akan mengakibatkan aktivitas yang letal, EF dan PA akan mengakibatkan penyakit edema (nama lain dari penyakit anthrax), toksin EF dan LF akan saling merepresi (inaktif), sedangkan jika ada ketiga toksin tersebut (PA, LF, dan EF), maka akan mengakibatkan edema, nekrosis dan pada akhirnya mengakibatkan kematian (letal).

Bila spora antraks masuk ke dalam tubuh dan kemudian sudah tersebar di dalam peredaran darah, akan tercipta suatu mekanisme pertahanan dari sel darah putih, namun sifatnya hanya sementara. Setelah spora dari pembuluh darah terakumulasi dalam sistem limpa maka infeksi akan mulai terjadi. Racun dari toksin yang dihasilkan oleh sel vegetatif tersebut akan mengakibatkan perdarahan internal (internal bleeding) sehingga mengakibatkan kerusakan pada beberapa jaringan bahkan organ utama. Jika racun dari toksin tersebut telah tersebar, maka antibiotik apapun tidak akan berguna lagi. Manusia dapat terinfeksi bila kontak dengan hewan yang terkena antraks, dapat melalui daging, tulang, kulit, maupun kotoran. Daging yang terkena antraks mempunyai ciri-ciri: berwarna hitam, berlendir, dan berbau. Hingga kini belum ditemukan kasus manusia tertular melalui sentuhan atau kontak dengan orang yang mengidap antraks, namun kemungkinan penularan antraks antar manusia harus tetap diwaspadai.

Antraks biasa ditularkan kepada manusia disebabkan pengeksposan kepada hewan yang sakit atau hasil ternakan seperti kulit dan daging, atau memakan daging hewan yang tertular antraks. Selain itu, penularan juga dapat terjadi bila seseorang menghirup spora dari produk hewan yang sakit misalnya kulit atau bulu yang dikeringkan. Pekerja yang tertular kepada hewan yang mati dan produk hewan dari negara di mana antraks biasa ditemukan dapat tertular B. anthracis, dan antraks dalam ternakan liar dapat ditemukan di Amerika Serikat. Walaupun banyak pekerja sering tertular kepada jumlah spora antraks yang banyak, kebanyakan tidak menunjukkan simptom. Antraks dapat memasuki tubuh manusia melalui usus, paru-paru (dihirup), atau kulit (melalui luka). Antraks tidak mungkin tersebar melalui manusia kepada manusia.
Bakteri B.anthracis ini termasuk bakteri gram positif, berbentuk basil, dan dapat membentuk spora. Endospora yang dibentuk oleh B. anthracisakan bertahan dan akan terus berdormansi hingga beberapa tahun di tanah. Di dalam tubuh hewan yang saat ini menjadi inangnya tersebut, spora akan bergerminasi menjadi sel vegatatif dan akan terus membelah di dalam tubuh. Setelah itu, sel vegetatif akan masuk ke dalam peredaran darah inangnya.

Proses masuknya spora anthrax dapat dengan tiga cara, yaitu :
1.  inhaled anthrax, di mana spora anthrax terhirup dan masuk ke dalam saluran pernapasan.
2.  cutaneous anthrax, di mana spora anthrax masuk melalui kulit yang terluka. Proses masukkanya spora ke dalam manusia sebagian besar merupakan cutaneous anthrax (95% kasus).
3.  gastrointestinal anthrax, di mana daging dari hewan yang dikonsumsi tidak dimasak dengan baik, sehingga masih megandung spora dan termakan

Antraks ada 4 macam jenis antraks yang dikenal dalam dunia medis yaitu :
1.  antraks kulit.
2.  antraks pada saluran pencernaan.
3.  antraks pada paru-paru.
4.  antraks meningitis.

Beberapa gejala antraks tipe kulit ialah bisul merah kecil yang nyeri, kemudian lesi membesar, menjadi borok, pecah dan menjadi sebuah luka. Jaringan di sekitarnya membengkak, dan lesi gatal tetapi agak terasa sakit. Gejala antraks pada pencernaan antara lain mual, pusing, muntah, tidak nafsu makan, suhu badan meningkat, muntah berwarna coklat atau hitam, buang air besar berwarna hitam, sakit perut yang hebat (melilit). Gejala antraks pada paru-paru antara lain demam, sering berkeringat, nyeri badan, mudah lelah, pusing, batuk, sesak nafas, mual, muntah. Sedangkan gejala  antraks meningitis antara lain demam, myalgia, sakit kepala, kaku kuduk, kejang-kejang, dan gangguan kesadaran.
Penanganan penyakit antrraks secara umum dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik, biasanya penisilin, yang akan menghentikan pertumbuhan dan produksi toksin. Pemberian antitoksin akan mencegah pengikatan toksin terhadap sel. Terapi tambahan, seperti sedation (pemberian obat penenang). Namun, pada level toksin sudah menyebar dalam pembuluh darah dan telah menempel pada jaringan maka toksin tidak dapat dinetralisasi dengan antibiotik apapun. Walaupun dengan pemeberian antitoksin, antibiotik, atau terapi, pasien tentu mempunyai rasio kematian.
 

Penulis: Lili Junaidi, SKM, M.Kes














Kategori Berita

Arsip File