Cacar Monyet (Monkeypox)

Monkeypox atau disebut cacar monyet adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis) yang mempunyai gambaran klinis menyerupai cacar, tetapi limfadenopati lebih menonjol pada awal penyakit. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan 'Monkeypox.' Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) Monkeypox biasanya 6-16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5-21 hari. Gejala yang timbul diawali dengan: Demam, Sakit kepala hebat, Nyeri punggung, Nyeri otot, Lemas, Limfadenopati di leher, ketiak atau selangkangan (gejala khas), dan Munculnya ruam atau lesi pada kuli.

Gejala limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening) merupakan perbedaan utama yang muncul pada Monkeypox, sedangkan pada Smallpox tidak ada. Munculnya ruam atau lesi pada kulit biasanya muncul setelah 1-3 hari (setelah gejala awal muncul), dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap. Ruam atau lesi pada kulit ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras atau keropeng lalu rontok. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok. Monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14-21 hari.

Monkeypox disebabkan oleh virus Monkeypox, virus ini merupakan anggota genus Orthopoxvirus dalam keluarga Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar Smallpox) dan virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar Smallpox).

Riwayat alamiah penyakit tentang asal-usul virus belum diketahui dengan jelas, tetapi diduga manusia, primata dan tupai hidup dalam satu siklus enzootik. Penyakit menyerang semua kelompok usia, tetapi anak umur dibawah 16 tahun mempunyai resiko terbesar untuk terkena penyakit ini. Kasus pada manusia pertama kali tercatat tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo.

Angka kematian pada anak-anak yang tidak divaksinasi dari berbagai studi didapatkan antara 1 3% s/d 10 14%. Dari tahun 1970 sampai dengan tahun 1994 lebih dari 400 kasus dilaporkan dari bagian Barat dan Tengah Afrika (Republik Demokratik Kongo (DRC), Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Ivory Coast, Liberia, Sierra Leone, Gabon and Sudan Selatan; Dari DRC dulu disebut Zaire tercatat 478 sekitar 95% kasus yang dilaporkan selama WHO mengadakan pengamatan selama 5 tahun (dari tahun 1981 1986) lebih dari 70 orang didiagnosa sebagai tersangka dan 6 orang meninggal pada tahun 1996, kejadian ini mendorong dilakukannya studi retrospektif yang disponsori oleh WHO sebanyak 3 buah yang dilakukan di DRC mencakup 0,5 juta orang dan 800 tersangka. Sekitar 20 virus Monkeypox dapat diisolasi dari penderita aktif sedangkan dari sera yang diambil dari tersangka ditemukan baik Monkeypox maupun chickenpox. Karena lemahnya infrastruktur kesehatan masyarakat dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi akurasi pelaporan kasus, maka jumlah yang pasti dari kasus-kasus dan proporsi dari kasus primer dan sekunder tidak diketahui dengan jelas.

Pada tahun 1980 sekitar 75% kasus yang dilaporkan disebabkan karena kontak dengan hewan; sedangkan dari penelitian yang dilakukan belakangan ini menunjukkan bahwa 75% kasus disebabkan karena kontak dengan manusia, namun tidak terjadi KLB. Rantai panjang, penularan dari orang ke orang hanya menghasilkan 7 orang penderita yang dilaporkan. Namun penularan serial tidak meluas melewati kasus sekunder. Dari data epidemiologis yang sangat terbatas memperlihatkan secondary attack rate kira-kira hanya sekitar 8%. Hampir sebagian besar kasus terjadi di desa terpencil yang terisolir dekat daerah hutan tropis, dimana biasanya penduduk sering kontak dengan berbagai jenis hewan. Kasus yang parah lebih sering terjadi pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi. Kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 10% kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Secara umum, kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap penyakit Monkeypox.

Studi ekologi yang dilakukan tahun 1980 membuktikan bahwa tupai-tupai (Funisciurus dan Heliosciurus) yang banyak ditemukan disekitar hutan kelapa sawit di sekitar desa, memperlihatkan bahwa tupai-tupai tersebut berperan sebagai reservoir dan mempunyai hubungan yang signifikan dengan terjadinya infeksi Monkeypox virus pada manusia di DRC. Adanya reservoir binatang dan adanya kontak antara binatang dengan manusia menyebabkan siklus penularan dapat berlangsung terus. Dengan demikian infeksi pada manusia dapat dicegah dengan melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk menghindari kontak dengan penderita dan dengan binatang yang sakit.

Pada tahun 2003 Amerika Serikat melaporkan kasus yang memiliki riwayat kontak dengan binatang peliharaan eksotis (prairie dog) yang terinfeksi oleh tikus dari Afrika yang masuk ke Amerika. Selanjutnya tahun 2017 muncul kejadian luar biasa Monkeypox di Nigeria. Tahun 2018 Inggris dan Israel juga melaporkan adanya kasus Monkeypox. Dan yang terakhir adanya laporan dari Singapura pada bulan Mei 2019 bahwa ada seorang warga negara Nigeria yang menderita Monkeypox saat mengikuti sebuah lokakarya, 23 orang yang kontak erat sudah dikarantina untuk pemeriksaan dan pengawasan lebih lanjut. Sampai saat ini belum ditemukan kasus Monkeypox di Indonesia.

Monkeypox merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan oleh virus ke manusia dari hewan seperti: monyet dan hewan pengerat (rodent) melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau lesi kulit hewan yg terinfeksi, dan mengonsumsi daging hewan liar yang terkontaminasi (bush meat). Di Afrika, infeksi Monkeypox telah ditemukan pada banyak spesies hewan, diantaranya: monyet, tikus Gambia dan tupai. Inang utama dari virus ini adalah rodent (tikus).

Penularan antar manusia sangat mungkin, namun jarang. Seseorang yang terinfeksi berisiko menularkan Monkeypox sejak timbulnya ruam atau lesi. Setelah semua keropeng rontok, seseorang sudah tidak berisiko menularkan lagi. Virus Monkeypox dapat ditularkan ke manusia ketika ada kontak langsung dengan hewan terinfeksi (gigitan atau cakaran), pasien terkonfirmasi Monkeypox, atau bahan yang terkontaminasi virus (termasuk pengolahan daging binatang liar). Masuknya virus adalah melalui kulit yang rusak, saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut).

Monkeypox hanya dapat didiagnosis secara pasti melalui pemeriksaan laboratorium rujukan. Namun secara klinis, diagnosis banding Monkeypox dapat mempertimbangkan penyakit ruam lain, seperti cacar Smallpox (meskipun sudah diberantas), cacar air, campak, infeksi kulit akibat bakteri, kudis, sifilis, dan alergi terkait obat. Limfadenopati selama tahap prodromal dapat menjadi gambaran klinis khas untuk membedakan Monkeypox dari cacar Smallpox.

Spesimen diagnostik yang optimal berasal dari lesi - usapan cairan dari eksudat lesi atau keropeng yang disimpan dalam tabung kering dan steril (tidak menggunakan media transportasi virus / VTM) dan harus dijaga agar tetap dingin. Darah dan serum dapat digunakan tetapi seringkali tidak dapat disimpulkan karena durasi viremia yang pendek dan waktu pengumpulan spesimen. Untuk menafsirkan hasil tes, sangat penting untuk melengkapi informasi pasien pada pengantar spesimen, seperti: a) perkiraan tanggal timbulnya demam, b) tanggal timbulnya ruam, c) tanggal pengumpulan spesimen, d) status saat ini dari individu (tahapan ruam), dan e) usia.

Monkeypox dapat dicegah dengan beberapa cara, diantaranya:

a.   Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan air dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol.

b.   Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.

c.   Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi, termasuk tempat tidur atau pakaian yang sudah dipakai penderita.

d.   Menghindari kontak dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging yg diburu dari hewan liar (bush meat)

e.   Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit Monkeypox agar segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala-gejala demam tinggi yang mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan, serta menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.

f. Petugas kesehatan agar menggunakan sarung tangan, masker dan baju pelindung saat menangani pasien atau binatang yang sakit.

Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simptomatik dan supportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul.Pasien Monkeypox dapat dirawat di ruang isolasi untuk mencegah penularan terutama pada fase erupsi. Biasanya pasien berada dalam kondisi penurunan daya tahan tubuh, sehingga rentan terkena infeksi nosocomial.

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) mempunyai kewajiban mengantisipasi terjadinya penularan penyakit di Points of Entry (Pelabuhan, Bandara, dan Pos Lintas Batas Darat). Hal yang perlu dilakukan KKP antara lain:

a.   Menyebarluaskan informasi tentang Monkeypox kepada masyarakat

b.   Melakukan pengawasan lebih intensif kepada crew pesawat dan Anak Buah Kapal (ABK) serta pelaku perjalanan dari negara terjangkit seperti: Singapura, negara-negara Arika Barat dan Afrika Tengah.

c.   Melakukan pemeriksaan kesehatan crew pesawat dan Anak Buah Kapal (ABK) serta pelaku perjalanan yang terdeteksi demam atau sakit yang diduga terkait dengan Monkeypox

d.   Meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan alat angkut untuk memastikan telah bebas binatang pengerat (rodent)

e.   Meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan dokumen kesehatan alat angkut.

f. Berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat dalam upaya pencegahan penyakit Monkeypox

g.   Jika menemukan kasus suspek Monkeypox, segera melaporkan ke Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI.

Penulis: Imam Abrori, SKM, MPH














Kategori Berita

Arsip File