Faktor Risiko Kesehatan Saat Berhaji

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang didalamnya terdapat aktifitas fisik yang lebih banyak daripada ibadah lainnya. Selain akifitas fisik, ibadah haji juga merupakan ibadah yang memerlukan perjalanan panjang dalam prosesnya, baik dalam hal jarak maupun waktunya. Jamaah haji Indonesia berada di tanah suci kurang lebih selama 40 hari, sehingga dengan perbedaan situasi dan kondisi antara tanah air dengan tanah suci pastilah juga akan menimbulkan masalah dari aspek kesehatan. Faktor risiko tersebut antara lain faktor usia, faktor risiko penyakit bawaan, faktor penerbangan lama, faktor aktifitas fisik, faktor cuaca, dan faktor risiko penularan penyakit. 

1.  Faktor usia

Salah satu karakteristik jamaah haji Indonesia adalah banyaknya jamaah usia lanjut  (> 60 Th) yang tiap tahunnya rata-rata sekitar 30 40 %. Banyaknya jamaah haji usia lanjut ini disebabkan karena lamanya menunggu proses antrian daftar tunggu haji reguler dan juga faktor kesiapan ekonomi calon jamaah haji. Banyaknya jamaah haji lansia ini tentunya merupakan faktor risiko kesehatan haji, seperti lemahnya kekuatan fisik, mudah terserang penyakit, sulitnya adaptasi lingkungan, maupun banyaknya penyakit degeneratif yang diderita oleh para lansia.

2.  Faktor risiko penyakit bawaan

Setiap tahun, pada jamaah haji Indonesia pasti banyak terdapat para jamaah risiko tinggi yang memang sudah terdapat penyakit ataupun faktor risiko penyakit yang dibawa dari tanah air. Penyakit ataupun faktor risiko penyakit itu antara lain penyakit jantung, hipertensi, Diabetes Mellitus, Hiperkholesterol, ginjal, anemia, riwayat stroke, dan sebagainya. Para jamaah risti tersebut harus mendapatkan pengawasan yang lebih ekstra dari petugas kesehatan haji Indonesia dalam rangka untuk mencegah atau meminimalkan jumlah morbiditas dan mortalitas jamaah haji Indonesia di tanah suci.

3.  Faktor penerbangan yang lama

Kelembaban udara pada ketinggian 5000-8000 kaki saat penerbangan yang mencapai 40-50% menyebabkan udara kering dan memudahkan penguapan dari keringat sehingga mempengaruhi kebutuhan cairan tubuh, apalagi bila disertai jumlah urin yang banyak akibat udara dingin. Dengan kondisi demikian, dikhawatirkan terjadi dehidrasi, khususnya pada calon jemaah haji lansia. Selain dehidrasi juga sering terjadi barotitis/nyeri pada sinus-telinga akibat perbedaan tekanan udara. Keterbatasan oksigen di pesawat juga berisiko terjadinya anemia hipoksia yaitu sel darah kekurangan zat merah darah (hemoglobin) yang berfungsi mengangkut oksigen, sehingga penderita anemia berat harus menjalani terapi dulu sebelum penerbangan.

Faktor kelelahan juga harus diwaspadai. Kelelahan disebabkan oleh pengaruh dari perjalanan dari kampung halaman menuju asrama haji sampai dengan sepuluh jam penerbangan, ditambah getaran (vibrasi) serta bising yang ditimbulkan oleh mesin jet pesawat terbang. Dalam penerbagan yang panjang, juga berisiko terjadinya motion sickness (pusing,keringat dingin,mual,muntah) dan pengembangan gas dalam saluran pencernaan. Bila gas cukup banyak jumlahnya, apalagi tidak mendapat jalan keluar (kentut), maka akan menekan dinding lambung dan menimbulkan rasa sakit yang hebat.

Waspadai juga adanya ancaman Deep Vein Thrombosis (DVT) dan emboli yaitu pembekuan darah vena yang terjadi akibat posisi duduk yang terlalu lama dengan gejala nyeri/bengkak di daerah betis, bahkan bisa sampai sesak napas. Adanya sindrom Jet lag biasanya juga menyertai penerbagan yang lama. Jet lag terjadi akibat tidak sinkronnya siklus malam dan siang di tempat yang baru. Gejalanya kelelahan fisik dan mental, dehidrasi, gangguan pola tidur.

4.  Faktor aktifitas fisik

Hari-hari di Madinah dan Makkah penuh dengan kegiatan fisik. Untuk ke Masjid Nabawi di Madinah jarak yang harus ditempuh dari penginapan bervariasi antara 500 meter hingga 2 kilometer.  Para jamaah biasanya mengejar ibadah sholat Arbain ke Nabawi (sholat 40 waktu). Ditambah lagi dengan kegiatan ziarah-ziarah serta aktifitas belanja dan jalan-jalan yang tentunya menambah aktifitas fisik. Di Makkah kesiapan fisik jamaah lebih dituntut lagi. Jarak penginapan ke masjid rata-rata lebih jauh daripada di Madinah. Suasana Makkah yang lebih padat juga menguras tenaga jamaah. Untuk bisa mendapat tempat dekat Kabah jamaah membutuhkan perjuangan yang cukup besar. Ratusan ribu orang berdesak-desakan. Untuk keluar masjid pun bukan perkara yang gampang. Aktifitas fisik bertambah di Arafah dan Mina. Perjalanan ke Arafah dan kembali ke Mina, baik naik bis atau berjalan kaki, sama-sama membutuhkan energi besar. Padahal prosesi ini tak boleh ditinggalkan dan digantikan. Puncak aktifitas fisik adalah saat melontar jumrah. Jutaan orang akan melontar jumrah dalam rentang waktu yang sama. Dibutuhkan fisik yang benar-benar fit untuk menjalaninya. Padahal biasanya, saat inilah kondisi fisik jamaah sudah sangat menurun.

5.  Faktor cuaca

Selain terkenal sebagai negara yang sangat panas dan gersang, suhu udaha di sana sejuk tetapi kering artinya iklim tropis di Arab Saudi juga dikenal sebagai iklim padang gurun. Wilayah Arab Saudi yang berada pada titik subtropis memiliki dua musim, yaitu panas dan dingin. Musim panas di Arab Saudi berlangsung antara bulan April sampai dengan Oktober. Mulai bulan Mei udara panas terus berhembus hingga bulan Agustus. Pada siang hari suhu udara bisa mencapai 55C. Musim dingin berlangsung pada bulan November hingga Maret. Pada bulan-bulan ini biasanya angin bertiup sangat kencang, bahkan kadang terjadi hujan es. Kelembaban udara di Arab Saudi sangat rendah (12-16%). Perbedaan cuaca yang ekstrem antara tanah air dengan tanah suci ini tentunya juga merupakan faktor risiko timbulnya penyakit antara lain heat stroke, influenza, ISPA,asma, penyakit kulit.

6.  Faktor risiko penularan penyakit

Pada waktu musim haji, Arab Saudi merupakan tempat berkumpulnya manusia dari berbagai belahan penjuru dunia dengan latar belakang daerah endemis dan epidemi masing-masing. Sehingga sangat berisiko adanya penularan penyakit dari satu orang ke orang lainnya. Penyakit yang berisiko menular antara lain meningitis, TBC, hepatitis, diare, kholera, influenza, dan yang belum lama ini muncul adalah MERS-CoV dan virus ebola, serta penyakit menular lainnya.

Tips-tips kesehatan yang dapat dilakukan oleh Jamaah haji ketika menjalankan ibadah haji di tanah suci antara lain sebagai berikut:

a. Tidak menyimpan makanan lebih dari 2 jam karena akan rusak (basi/berlendir)

b. Makan makanan bersih dan bergizi secara teratur 3 x sehari, jika makan di warung pilihlah tempat yang bersih dan higienis

c. Banyak minum air putih dan membawa bekal air ketika bepergian

d. Selalu gunakan masker terutama di tempat keramaian, dan di tempat-tempat yang berdebu

e. Memakai pakaian tebal dan menutup tubuh seperti kaos kaki, sarung tangan dan penutup leher untuk menghindari sengatan dingin

f. Cuci tangan memakai sabun sebelum makan dan setelah beraktifitas dan setelah buang air kecil/besar

g. Jaga kebersihan toilet/WC dan kebersihan kamar di pondokan/hotel

h. Istirahat yang cukup, kurangi kegiatan yang tidak perlu dan banyak menguras tenaga

i.   Tidak merokok

j. Minum obat secara teratur sesuai jadwal bagi penderita penyakit tertentu seperti jantung, kencing manis, tekanan darah tinggi atau asma

k. Menggunakan krim untuk menjaga kelembaban kulit

l.   Buang sampah pada tempatnya dan tidak meludah sembarangan

m. Ketika di pesawat, makan minum yang cukup dan melakukan olah raga ringan di pesawat (sambil duduk), hindari makanan yang mengandung gas dan merangsang asam lambung, bagi yang mabok pesawat minum obat anti mabok sekitar 1 jam sebelum perjalanan

n. Selalu konsultasikan setiap keluhan dan gejala penyakit pada petugas kesehatan yang mendampingi Jamaah (TKHI/TKHD). 

(Ariyanto, SKM)


Suasana Kepadatan saat Thawaf di Masjidil Haram, Makkah



Suasana Arbain di Masjid nabawi, Madinah



Suasana perawatan pasien di BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia) di Makkah

Referensi:

1. Buku bacaan peserta pelatihan TKHI. 2008. Jakarta: Depkes RI

2. www.puskeshaji.depkes.go.id

3. www.wawiti-infohaji.com

4. www.fahima.org

 














Kategori Berita

Arsip File