Sosialisasi HIV/Aids di Lingkungan Pelabuhan

Seperti kita ketahui bahwa dampak arus globalisasi selain memberi dampak yang positif juga memberi dampak negatif. Salah satu dampak negatif adalah adanya perkembangan dan penyebaran penyakit yang makin beragam dan begitu cepat penularannya. HIV/Aids merupakan salah penyakit yang meresahkan masyarakat didunia sehingga upaya penanggulangannya harus terus digalakkan. Epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) secara global masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data profil kemenkes tahun 2015, jumlah kasus HIV di Indonesia sebanyak 92.143 kasus, dan Aids sebanyak 83.193 kasus. Dari jumlah tersebut, Provinsi Jawa Tengah menempati urutan ke-5 secara nasional, dengan jumlah HIV sebanyak 8.164 kasus dan Aids sebanyak 6.005 kasus. Data tersebut tentunya belum merupakan jumlah keseluruhan, sebab kasus HIV/Aids merupakan fenomena gunung es, artinya jumlah kasus yang tersembunyi/belum ditemukan jumlahnya diperkirakan jauh lebih besar daripada jumlah kasus yang sudah ditemukan.

Pelabuhan sebagai pintu masuk suatu negara/daerah merupakan first contact penularan penyakit yang datang dari luar negara maupun daerah, sehingga pelabuhan merupakan tempat strategis dalam penyebaran/penularan suatu penyakit, termasuk HIV/Aids. Selain itu, populasi di Pelabuhan yang identik dengan kehidupan yang keras merupakan salah satu populasi berisiko dalam penularan HIV/Aids.

Sesuai amanat IHR (2005), Kantor Kesehatan Pelabuhan mempunyai kewajiban mengantisipasi terjadinya penularan penyakit di point of entry. Salah satu langkah yang efektif untuk mengantisipasi terjadinya penularan penyakit adalah melaksanakan deteksi dini terhadap kelompok faktor risiko, menyediakan layanan HIV/AIDS pada populasi beisiko termasuk anak buah kapal, tenaga kerja bongkar muat barang, dan masyarakat atau pekerja di Pelabuhan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat pelabuhan tentang HIV/Aids dengan menyelenggarakan sosialisasi HIV/Aids di lingkungan Pelabuhan.

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang tanggal 18 April 2017 mengadakan kegiatan sosialisasi HIV/Aids di Lingkungan Pelabuhan, bertempat di Hotel Santika Pekalongan. Hadir dalam acara ini berbagai lintas sektor di Pelabuhan Pekalongan seperti dari Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Pekalongan, Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan, PSDKP, Polairud Pekalongan, HNSI, Puskesmas Kusuma Bangsa, Keagenan Kapal, kader kesehatan, dan sebagaianya. Selain itu hadir juga perwakilan unsur maritim Pelabuhan Batang, seperti HNSI Batang, LPL Batang, dan Kader Kesehatan wilayah Pelabuhan Batang. Acara ini bertujuan untuk mensosialisasikan kegiatan pencegahan dan pengendalian HIV/Aids yang dilakukan di Pelabuhan Pekalogan dan Batang. Kegiatan ini juga bertujuan untuk melakukan jejaring lintas sektor, melakukan evaluasi kegiatan pengendalian HIV/AIds yang selama ini telah berjalan, serta sebagai media promosi kesehatan kepada stake holder terutama yang berhubungan dengan pencegahan dan pengendalian HIV/Aids di Pelabuhan Pekalongan dan Batang.

Acara diawali dengan laporan ketua panitia oleh Kepala Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi (PKSE) KKP Semarang, dalam hal ini diwakili oleh Lili Junaidi, SKM, M.Kes. Kemudian acara dibuka secara resmi oleh Kepala KKP Semarang, yang diwakili oleh Kepala Seksi PKSE, Hj. Tri Heriyanti, SKM sekaligus memberikan sambutan sekaligus menyampaikan materi tentang tugas dan peran KKP dalam pengendalian HIV/Aids di wilayah Pelabuhan. Dalam materinya Kepala Seksi PKSE mengatakan bahwa tugas pokok dan fungsi utama Kantor Kesehatan Pelabuhan yaitu mencegah keluar masuknya penyakit menular berpotensi menimbulkan wabah/KLB/PHEIC, termasuk salah satunya penyakit HIV/Aids. Penyakit HIV/Aids masih merupakan ancaman di Indonesia karena jumlahnya terus mengalami peningkatan dan seringkali tidak terdeteksi sejak dini sampai penyakitnya semakin parah dan menularkan kepada orang lain. Kasus HIV/Aids merupakan fenomena gunung es, artinya jumlah kasus yang ditemukan dimungkinkan hanya sebagian kecil dari kasus-kasus yang belum ditemukan. Wilayah Pelabuhan merupakan salah satu tempat risiko tinggi penularan HIV/Aids mengingat tempat ini merupakan pintu masuk baik antar wilayah maupun antar wilayah sehingga KKP bersama sektor lain terkait harus terus melakukan tindakan pengawasan dan pengendalian penyakit ini.


Laporan Ketua Panitia oleh Lili Juanidi, SKM, M.Kes


Sambutan sekaligus Materi oleh Kepala Seksi PKSE, Hj. Tri Heriyanti, SKM


Materi kedua disampaikan oleh pengelola program VCT KKP Semarang, dr Endang Purwaningsih. Dalam materinya, dr Endang memaparkan tentang selayang pandang penyakit HIV/Aids dan hasil kegiatan deteksi dini (screening) IMS yang dilakukan oleh KKP di Pelabuhan Pekalongan dan Batang. KKP Semarang telah melakukan screening terhadap 70 sampel di Pelabuhan Pekalongan dan 71 sampel di Pelabuhan Batang. Dari jumlah tersebut terdapat masing-masing 1 sampel positif sifilis di Pelabuhan Pekalongan dan Batang. Sedangkan untuk kasus HIV kasusnya 0 atau tidak ditemukan. Walaupun kasusnya 0 namun masyarakat harus tetap waspada karena sampel yang diambil masih sedikit dibandingkan dengan jumlah keseluruhan populasi berisiko di wilayah Pelabuhan Pekalongan dan Batang. Jadi populasi yang belum diambil sampel tidak menutup kemungkinan ada yang terinfeksi HIV. Wilayah Pelabuhan selama ini menjadi salah satu zona merah penularan HIV karena karakteristik populasi yang berada di wilayah Pelabuhan yang datang dari berbagai wilayah melalui alat angkut kapal dan singgah hanya beberapa saat kemudian pergi lagi. Ditambah lagi dengan kehidupan yang keras dan jarang bertemu dengan keluarga sehingga riskan menimbulkan perilaku seks berisiko. Di Wilayah Pelabuhan juga seringkali terdapat lokalisasi terselubung yang yang murah dan mudah diakses oleh ABK Kapal maupun pekerja Pelabuhan. Oleh karena itu KKP Semarang harus terus melakukan pencegahan dan pengendalian terhadap penyakit HIV/Aids di wilayah Pelabuhan baik melalui screening, promosi kesehatan, maupun penguatan jejaring lintas sektor.


Materi oleh pengelola program VCT KKP Semarang, dr. Endang Purwaningsih


Materi ketiga dari Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr Tuti Widayanti, M.Kes. Dalam materinya dr Tuti menyampaikan tentang data kasus HIV/Aids di Kota Pekalongan. Bahwa di Kota Pekalongan dari tahun 2005 sampai 2017 terdapat kasus HIV/Aids sebanyak 155 orang. Dari jumlah tersebut 51 merupakan kasus HIV dan 104 merupakan kasus Aids. Jumlah kasus yang meninggal yaitu sebanyak 91 orang. Upaya pengendalian HIV/Aids yang telah dilakukan antara lain yaitu dengan menyediakan klinik VCT di tiap Puskesmas di Kota Pekalongan dan melakukan VCT mobile pada event-event khusus dan tempat-tempat tertentu, seperti di Lapas, tempat hiburan, wilayah pesisir pantai, dan sebagainya. DKK Pekalongan juga memfasilitasi pengobatan ARV dan pendampingan bagi penderita HIV/Aids.


Materi Oleh Kabid P2P Dinkes Kota Pekalongan, dr. Tuti Widayanti, M.Kes


Pada sesi diskusi/tanya jawab, ada beberapa pertanyaan maupun masukan dari peserta pertemuan. Pertanyaan pertama dari Rita (kader kesehatan Pelabuhan batang) bagaimana cara penularan HIV dari ibu ke bayi dan kiat-kiat untuk mencegah penularannya. Dr. Endang menjawab bahwa penularan HIV dari ibu ke bayi yaitu melalui darah yang terhubung dari ibu ke bayi melalui plasenta ketika masih dalam kandungan. Selain itu penularan juga dapat terjadi saat ibu menyusui bayinya melalui air susu ibu. Untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi maka cara yang efektif adalah dengan pengobatan sejak dini kepada ibu hamil dengan obat ARV. Dengan ARV maka perkembangan dan keganasan virus dapat ditekan sehingga dapat mencegah penularan dari ibu ke bayi. Pertanyaan kedua yaitu dari M.Suharyono (Satker PSDKP Pekalongan) yang menanyakan tentang akses informasi penderita HIV di Kota Pekalongan dan bagaimana upaya pencegahan ke tempat-tempat berisiko seperti pada lokalisasi maupun pada komunitas homoseksual. Dr. Tuti menjawab bahwa untuk informasi penderita HIV/Aids bersifat rahasia, Dinas Kesehatan Kota Pekalogan hanya dapat memberikan data kepada masyarakat berupa angka jumlah kasus maupun wilayah persebarannya. Untuk pengendalian HIV/Aids di tempat-tempat khusus, DKK Pekalongan telah bekerjasama dengan LSM maupun tokoh masyarakat untuk dapat masuk ke tempat tersebut (lokalisasi dan komunitas homoseksual) sehingga dapat melakukan screening dan penyuluhan. Pertanyaan ketiga disampaikan oleh dr.Dini dari Puskesmas Kusuma Bangsa tentang masih sulitnya melakukan screening secara aktif terutama pada kelompok berisiko di dalam wilayah Pelabuhan. Dr. Endang menjawab bahwa untuk di dalam wilayah Pelabuhan penemuan kasus dilakukan oleh KKP, jika ada sampel yang positif maka penelusuran akan diserahkan kepada DKK Pekalongan. KKP akan terbuka jika dimintai data oleh Puskesmas Kusuma bangsa maupun DKK Pekalongan dan dapat bersinergi dalam pencegahan dan pengendalian HIV/Aids khususnya di wilayah Pelabuhan.


Sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber


Di akhir acara, semua peserta dipersilahkan secara sukarela untuk melakukan pemeriksaan HIV/Aids dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) yang telah disiapkan oleh tim VCT KKP Semarang. Dan semua peserta sangat antusias untuk mengikuti pemeriksaan ini karena ingin mengetahui apakah dirinya aman dari virus HIV.


Foto bersama peserta sosialisasi


Penulis : Ariyanto, SKM, M.Kes.(Epid)  














Kategori Berita

Arsip File