Pertemuan Koordinasi Penyakit Menular Dan Potensial KLB di Pintu Masuk Negara

Dalam beberapa tahun terakhir, kita dihadapkan dengan beberapa ancaman di bidang kesehatan berupa munculnya new emerging disease maupun re-emerging disease yang berpotensi menimbulkan keresahan masyarakat dunia. Peningkatan Kesehatan Masyarakat adalah upaya yang dilakukan untuk memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat dari ancaman penyakit atau faktor risiko timbulnya penyakit oleh karena sanitasi lingkungan yang buruk, penularan penyakit infeksi dan kurangnya kemampuan sumber daya dalam melakukan pencegahan (to prevent), deteksi dini (to detect) dan penanganan kejadian sakit sedini mungkin (to response).

Kemampuan utama di pintu masuk negara meliputi kemampuan dalam kondisi rutin setiap saat dan kemampuan merespon dalam kondisi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Secara Global (Public Health Emergency of International Concern/ PHEIC). Selain daripada kondisi PHEIC juga harus mempunyai kesiapan dalam menghadapi kejadian kedaruratan. Selain kemampuan dalam mendetect kejadian PHEIC, KKP Semarang juga dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam melakukan pencegahan (to prevent), deteksi dini (to detect) dan penanganan kejadian sakit sedini mungkin (to response) Kejadian Luar Biasa (KLB). KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Kejadian Luar Biasa (KLB)/Wabah atau bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja baik akibat ulah manusia, alam maupun kedua-duanya.

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Semarang tanggal 8-9 Mei 2017 mengadakan kegiatan pertemuan koordinasi penyakit menular dan potensial KLB di pintu masuk negara, bertempat di hotel Grand Artos, Magelang. Peserta dalam acara ini yaitu pegawai KKP Semarang dari tiap seksi dan perwakilan tiap wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang. Dengan acara ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan peserta dalam aplikasi bidang epidemiologi secara teknis di lapangan.

Acara diawali oleh ketua panitia yaitu kepala seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi, Hj. Tri Heriyanti, SKM. Kemudian acara dibuka secara resmi oleh Kepala KKP Semarang, Priagung Adhi Bawono, SKM, M.Med.Sc.(PH) sekaligus menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, Kepala Seksi PKSE mengatakan bahwa KKP memiliki tugas pokok dan fungsi dalam cegah tangkal kejadian PHEIC di pintu masuk negara. Dalam cegah dan tangkal ini diperlukan kemampuan petugas dalam deteksi dini faktor risiko baik di alat angkut maupun di wilayah sekitar Pelabuhan. Dan ilmu epidemiologi secara praktis sangat diperlukan karena dalam mengendalikan kasus PHEIC berkaitan dengan host (pejamu), agent (penyebab), dan environment (lingkungan).


Laporan Ketua Panitia Oleh Kepala Seksi PKSE, Hj. Tri Heriyanti, SKM


Materi pada acara ini disampaikan oleh 3 narasumber yang disajikan secara panel. Narasumber pertama yaitu dari Kepala KKP Semarang yang menyampaikan tentang materi tentang tugas dan peran KKP dalam pengendalian kejadian penyakit menular dan potensi KLB/Wabah/PHEIC di pintu masuk negara. Dalam materinya, Kepala KKP Semarang menyampaikan tentang pentingnya kemampuan petugas dalam mendeteksi, mencegah, dan merespon setiap faktor risiko kejadian KLB/Wabah/PHEIC. Pelabuhan/bandara merupakan pintu masuk baik antar negara maupun antar wilayah, dengan polulasi yang dinamis (berganti-ganti). Hal ini yang membedakan dengan populasi yang ada di masyarakat di mana yang diamati pada populasi yang cenderung menetap. Obyek pengamatan yang dinamis ini tentunya memerlukan surveilans aktif dan terukur. Petugas KKP harus selalu update informasi maupun keilmuan yang berkaitan dengan penyakit maupun kejadian-kejadian yang sedang berkembang di dunia. Selain itu diperlukan anaisis dan respon yang cepat terhadap suatu kejadian yang mengarah pada potensi PHEIC supaya kejadian yang lebih besar dan luas dapat dicegah.


Sambutan Kepala KKP Semarang, Priagung Adhi Bawono, SKM, M.Med.Sc.(PH) sekaligus pemaparan materi


Materi kedua dari ketua umum PAEI pusat, Dr. dr. Hariadi Wibisono, MPH. Ketua PAEI menyampaikan materi tentang surveilans aktif, deteksi dini, dan penyelidikan epidemiologi penyakit potensi KLB/wabah. Dalam materinya, Ketua PAEI menyampaikan tentang pentingnya ilmu epidemiologi dalam menyelesaikan masalah kesehatan. Dalam penanganan suatu kasus/kejadian, dalam epidemiologi mempuyai 4 sifat yaitu prediktif, antisipatif, responsif, dan reaktif. Dalam kapasitas ini, KKP dititik beratkan pada fungsi prediktif dan antisipatif karena yang dihadapi lebih banyak pada ranah faktor risiko. Namun KKP juga harus membekali diri dengan langkah responsif dan reaktif untuk mempersiapkan diri jika suatu kasus benar-benar terjadi di pintu masuk negara. Inti dari Epidemiologi yaitu kegiatan surveilans epidemiologi. Kegiatan surveilans ditujukan untuk memantau kecenderungan suatu atau beberapa penyakit dan besaran masalahnya, mendeteksi dan memprediksi terjadinya KLB/wabah, memantau kinerja program, memantau upaya penanggulangan, memahami karakteristik masalah kesehatan, serta untuk kepentingan perencanaan dan evaluasi program. Surveilans epidemiologi merupakan komponen pokok dalam SKD (Sistem Kewaspadaan Dini) KLB karena dapat memprediksikan suatu kejadian, menentukan langkah pencegahan, dan penanggulangan suatu kasus berpotensi KLB/wabah.


Materi dari Ketua PAEI pusat, Dr.dr. Hariadi Wibisono, MPH

Materi ketiga disampaikan oleh Fifi Nur Afifah, SKM, M.Epid (Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi KKP Tanjung Priok) yang merupakan tim penilai JFT Epidemiolog Kesehatan pusat. Fifi Nur Afifah menyampaikan materi tentang kegiatan JFT epidemiolog di KKP dari segi tupoksi dan penilaian angka kredit. Epidemiolog di KKP melaksanakan tugas antara lain yaitu melakukan kegiatan surveilans epidemiologi, melakukan SKD di wilayah kerja, melaksanakan penagamatan terhadap faktor risiko penyakit, melakukan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB, serta melakukan jejaring epidemiologi baik lintas program maupun lintas sektor. Surveilans epidemiologi yang dilaksanakan di KKP obyeknya meliputi alat angkut (kapal/pesawat), pelaku perjalanan (crew/penumpang), lingkungan pelabuhan, masyarakat pelabuhan. Pengamatan bersifat dinamis dengan jaringan tidak hanya nasional tetapi juga internasional. Epidemiolog di KKP tidak hanya berada di seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi saja, tetapi dapat melakukan fungsinya di seksi lain. Epidemiologi mempunyai lingkup yang luas, sehingga butir-butir kegiatan yang ada di angka kredit dapat disesuaikan dengan tupoksi yang ada di seksi masing-masing. Agar kegiatan yang dilakukan oleh seorang epidemiolog bernilai angka kredit, maka hendaknya laporan disusun lebih sistematis dan diarahkan pada analisis dari sudut pandang epidemiologi pada masing-masing kegiatan yang dilakukan di KKP.


Materi dari Tim Penilai JFT Epidemiolog, Fifi Nur Afifah, SKM, M.Epid


Pada sesi diskusi/tanya jawab ada beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh peserta. Pertanyaan pertama dari Lili Junaidi tentang bagaimana cara seorang epidemiolog melakukan langkah prediktif dan antisipatif serta bagaimana menentukan status pelabuhan negara termasuk negara sehat atau terjangkit. Dr. Hariadi menjawab bahwa epidemiolog di KKP harus melakukan surveilans aktif secara terus menerus baik melalui survei di lapangan maupun mengupdate informasi tentang daerah atau negara manasaja yang sedang terjadi penularan penyakit/kasus tertentu. Sedangkan untuk menentukan negara sehat atau terjangkit, Fifi Nur Afifah menjawab kalau di KKP ada 2 sumber yang bisa dijadikan acuan yaitu informasi dari WHO melalui web resminya dan juga melalui Kemenkes yang biasanya disebarluaskan melalui email berupa surat edaran. Pertanyaan kedua disampaikan oleh Falakhis Ali dari Wilker Tegal yang menanyakan tentang bagaimana peran epidemiolog jika suatu saat terbentur dengan atasan/birokrasi. Dijawab oleh Dr. hariadi bahwa hal itu tergantung dari komitmen awal instansi/organisasi yang bersangkutan. Jika organisasi itu mempunyai komitmen bersama dalam tugas pencegahan dan pengendalian penyakit maka pasti cara berfikirnya akan mendukung kegiatan di bidang epidemiologi.

Pertanyaan selanjutnya disampaikan oleh Imam Abrori yaitu apakah publikasi artikel sewaktu kuliah bisa diajukan untuk penilaian angka kredit dan jika seorang pegawai sedang tubel mulai kapan kegiatan yang diakui sebagai angka kredit. Fifi menjawab bahwa publikasi artikel bisa dimasukkan dalam dupak walaupun yang bersangkutan sedang kuliah. Jika seseorang sedang tubel maka kegiatan epidemiologi yang diajukan bisa 2 tahun sebelum dirinya tubel. Pertanyaan keempat dari dr Fatma Indriyati (wilker bandara Ahmad Yani) yang menanyakan tentang bagaimana tentang prosedur pengawasan OMKABA terutama pada barang jinjingan penumpang yang melalui bandara. Fifi menjawab bahwa saat ini belum ada SOP resmi, masih dibahas tentang peraturan dan MOU nya oleh Kemenkes. Kemudian Nur Idayanti dari Wilker Tegal yang memberikan masukan tentang perlunya refreshing keilmuan khususnya untuk para epidemiolog agar wawasan serta kemampuan selalu terupgrade, dan perlu adanya format yang baku dalam pembuatan laporan maupun makalah sehingga ada rujukan terutama pada saat pengajuan angka kredit.

Pada acara pertemuan ini juga dilakukan pengukuhan pengurus PAEI komisariat KKP Semarang oleh ketua umum PAEI pusat. Komisariat KKP Semarang ini diketuai oleh Lili Junaidi, SKM, M.Kes dan semua pengurus berjumlah 14 orang dimana semuanya adalah dari jabfung epidemiolog di KKP Semarang. Pada hari kedua pertemuan ini, diisi materi dari Bagian HOH (Hukum, Organisasi, Hubungan Masyarakat) Ditjen P2P Kemenkes RI. Materi yang disampaikan oleh HOH yaitu tentang review implementasi WBK (Wilayah Bebas Korupsi) di KKP Semarang.


Pelantikan pengurus PAEI Komisariat KKP Semarang



Materi WBK dari Hukormas Ditjen P2P Kemenkes RI


Penulis: Ariyanto, SKM, M.Kes.(Epid)














Kategori Berita

Arsip File