Sosialisasi Tuberculosis Paru Pada Kelompok Risiko Tinggi DI Wilayah Pelabuhan/Bandara

Sebagaimana kita ketahui bahwa penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular langsung yang disebarkan melalui udara. Tingginya mobilitas masyarakat di jaman globalisasi dan lingkungan serta perilaku yang kurang sehat  juga memudahkan perkembangan dan penyebaran penyakit TB sehingga penularannya semakin cepat. Hal ini tentunya akan menimbulkan dampak dari berbagai bidang baik dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah adanya perkembangan dan penyebaran penyakit yang makin beragam dan begitu cepat penularannya.

Menurut data WHO, saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-4 di dunia diantara 22 negara yang mempunyai beban tinggi TB dan peringkat 9 untuk kasus TB Multi Drug Resistance (MDR) di dunia diantara 27 negara yang mempunyai beban TB MDR.  Tuberkulosis adalah penyakit infeksi pada manusia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif, pada waktu batuk atau bersin, pasien meyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei) sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.

Kepala KKP Kelas II Semarang Bapak Priagung Adhi Bawono, SKM.M.Med,Sc (PH), dalam sambutannya menyampaikan bahwa :

1. KKP mempunyai peranan yang sangat penting dalam melakukan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dari satu negara ke negara lainnya, baik melalui kapal/pesawat udara, sehingga peranan KKP dalam pencegahan TB di wilayah Pelabuhan/Bandara harus lebih ditingkatkan lagi.

2. Sesuai amanat IHR 2005, Kantor Kesehatan Pelabuhan mempunyai kewajiban mengantisipasi terjadinya penularan penyakit di point of entry maupun antar daerah melalui penerbangan. Salah satu langkah yang efektif untuk mengantisipasi terjadinya penularan penyakit adalah melaksanakan deteksi dini terhadap kelompok faktor risiko. Penumpang kapal/pesawat terutama jamaah haji dan umroh yang harus menempuh penerbangan jangka lama, merupakan satu kelompok berisiko.  Dari data Embarkasi 2014 terdapat 4 jamaah haji yang teridentifikasi BTA positf (Tegal, Kendal, Pati dan Rembang). Untuk itu perlu adanya skrining/cegah tangkal sebelumnya, sehingga kegiatan sosialisasi ini dapat meningkatkan jejaring kerja dalam mencegah tangkal penyakit TB tersebut.

Acara sosialisasi ini di buka oleh Bapak Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah yaitu Bapak dr. Yulianto Prabowo, M.Kes, dalam sambutannya disampaikan :

1. Kasus baru penyakit TB di Jawa Tengah pada tahun 2014 sebanyak 21.084 kasus dengan Case Notification Rate (CNR)  114/100.000 penduduk, sedangkan total jumlah kasus TB baik kasus baru maupun kambuh sebanyak 37.753 kasus. Pencapaian Success Rate untuk penderita TB yang diobati mencapai 87,03 %.

2. Tingginya kasus TB di Jawa Tengah memerlukan perhatian dari kita semua. Penemuan penderita TB secara dini perlu dilakukan untuk mencegah semakin meluasnya penyebaran penyakit TB. Salah satu langkah yang paling efektif untuk melakukan penemuan dini adalah dengan melakukan skrining TB pada kelompok resiko tinggi. 

3. Kelompok yang termasuk resiko tinggi adalah para penumpang kapal/pesawat terutama jamaah haji dan umroh yang harus menempuh penerbangan jangka lama serta penduduk sekitar pelabuhan. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) mempunyai kewenangan dalam mengantisipasi penularan penyakit di kawasan pelabuhan maupun bandar udara. Pemeriksaan skrining TB kepada para penumpang kapal maupun pesawat sangat bermanfaat untuk menemukan suspek TB sehingga dapat segera diobati dan dapat menekan penyebarluasan penularannya.

4. Dengan adanya pertemuan sosialisasi ini dapat terbentuk jejaring kerja dalam kegiatan skrining TB pada kelompok resiko tinggi di kawasan pelabuhan dan bandar udara. Selanjutnya diharapkan ada kesinambungan jejaring kerja  antara KKP dan Dinas Kesehatan baik Provinsi Jawa Tengah maupun Kota Semarang serta instansi terkait lainnya.

5. Kepala Dinkes Prov. Juga berharap dengan adanya jejaring kerja ini penemuan kasus TB di Jawa Tengah semakin meningkat sehingga semakin banyak penderita TB yang dapat ditemukan dan diobati sedini mungkin, dengan demikian pada akhirnya angka penyebarluasan penyakit TB di Jawa Tengah dapat ditekan.

Sosialisasi tuberkulosis yang di selenggarakan di Aula KKP Kelas II Semarang, dengan mengundang tokoh masyarakat di wilayah Pelabuhan/Bandara,hadir juga dalam acara ini yaitu dari KSOP Semarang, PT (PERSERO) A.P.I Akhmad Yani dengan narasumber dari Dinas Kesehatan Propinsi yaitu Bapak Akhmad Saifudin dengan Materi Kebijakan Program Pengendalian Tb Di Jawa Tengah, narasumber Dinas Kesehatan Kodya Semarang yaitu dr. Mada Gautama dengan Materi Program Penanggulangan Tb Dinas Kesehatan Kota Semarang dan di akhiri dengan materi Pengendalian Tuberkulosis Di Penerbangan Dan Pelabuhan oleh dr. Migunani Utami, Sp.KP dari KKP Kelas II Semarang. (badarsoc)



Duduk Paling Depan dari kiri Ibu Tri Heriyanti, SKM (Kasie UKLW KKP Semarang), Kadinkes Prov. Jateng (Bapak dr. Yulianto Prabowo, M.Kes), Kepala KKP Kelas Semarang (Priagung Adhi Bawono, SKM.M.Med. Sc (PH)), Dinkes Kodya Semarang (dr. Mada)



Narasumber dari Dinkes Kodya Semarang (dr. Mada) Sedang Menyampaikan Materi


Peserta Sosialisasi Tuberculosis Paru Pada Kelompok Risiko Tinggi
Di Wilayah Pelabuhan/Bandara

 














Kategori Berita

Arsip File